Minggu, 04 Desember 2016

SRE bersama Yamaha Riding Education

SRE? Wah apa lagi itu? Yups guys SRE yang saya maksud merupakan singkatan dari Safety Riding Education atau edukasi mengenai cara berkendara yang aman. Berkendara menggunakan sepeda motor maksudnya. Pada tanggal 27 November 2016 saya bersama rekan blogger dan vlogger Jogja mendapat kesempatan mengikuti Safety Riding Education yang diselenggarakan oleh Yamaha Riding Education. Tempatnya berlokasi di Stadion Maguwoharjo. Wah terima kasih saya ucapkan kepada Mas Wawan atas kesempatan ini.
Antrean tampak mengular. Dokuemntasi pribadi
Nah apa itu Safety Riding education? Mengapa pengguna sepeda motor perlu sekali berkendara yang aman? Kecelakaan motor yang cukup tinggi di Indonesia dan angkanya terus meningkat menjadikan pengendara perlu mendapat edukasi ini. Yamaha sangat care terhadap tingginya kasus kecelakaan akibat kurangnya safety riding di Indonesia.

Acara ini berlangsung dari pagi hingga menjelang sore. Ada kelas teori dan kelas praktik di lapangan. Di kelas teori ada beberapa instruktur yang berbagi materi tentang bagaimana berkendara cara berkendara yang aman yang tepat serta contoh-contoh sikap di jalanan yang tidak menunjukkan safety riding. Dalam slide presentasi ditampilkan pula video-video kecelakaan karena pengguna tidak mencerminkan sikap safety riding, seperti misalnya berkendara tanpa menggunakan helm atau berboncengan melebihi batas sewajarnya, 3 atau 4 orang dalam satu motor.
YRA Program for kids and adults. Dokumetasi pribadi. 
Kadang saya juga ngeri sendiri kalau melihat anak kecil tanpa helm berkendara motor di jalan sambil ngebut. Pasalnya, saya dan ayah saya pernah berpapasan dengan anak-anak dengan gaya berkendara seperti ini. Anak SD pula pemirsa! Saat itu saya membonceng ayah, stang motor ayah saya kesenggol stang motor anak SD tadi. Ayah saya bisa mengendalikan situasi walau kami hampir jatuh. Saya lebam di bagian lengan karena kena stang motor anak SD tersebut. Ayah saya lebih parah. Nah si anak SD terjatuh dalam kondisi berdarah. Saya sempat ngeri menyaksikannya. Kami dihadang massa saat itu. Sungguh situasi yang sangat mencekam. Saya berpikir semoga saya dan ayah saya tidak kenapa-napa (saya masih ingin hidup dan tidak ingin berurusan dengan polisi). Emosi massa yang mengerumuni sudah mulai naik. Namun untungnya setelah memberi penjelasan, salah satu dari mereka berusaha membuat suasana kondusif. Ayah saya diberi nomor telepon keluarga anak kecil tadi agar bisa mengganti kerugian yang terjadi. Ugh yang salah siapa, yang kena siapa. Anak SD tersebut dengan seragam yang masih menempel di bajunya ngebut tanpa helm. Mungkin kurang berhati-hati sehingga tanpa sengaja menyenggol stang motor ayah saya. Beberapa saat kemudian kami diberi kesempatan melanjutkan perjalanan ke Jogja. Kami juga tidak berurusan dengan polisi karena masalah diseleseikan dengan kekeluargaan. 

Inilah sedikit cerita. Sedikit perhatian dan peringatan dari orangtua agar jangan sembarangan membebaskan anaknya berkeliaran liar menggunakan motornya di jalan. Selayaknyanya orangtua memberikan panduan berkendara yang baik dan benar. Jika belum cukup umur jangan dipaksakan, apalagi sampai menembak SIM segala. Kan kasihan kalau ada kejadian seperti yang saya alami tadi. Kedua belah pihak sama-sama terluka. 

Nah lanjut ke materi safety riding yak....
Salah satu instruktur, Mas Danang sedang memaparkan materi Safety riding.
Berdasarkan pemaparan Mas Danang, ada 3 faktor yang menjadi penyebab kecelakaan. Ketiga hal tersebut meliputi faktor manusia, kendaraan, kondisi lingkungan atau jalan. Dalam berkendara, kita kudu bisa mengendalikan emosi selama berkendara. Usahakan fokus. Jaga kecepatan berkendara sesuai batas sewajarnya yang bisa dilakukan. jangan arogan, apalagi kebut-kebutan buat ajang pamer kecepatan. Kita juga kudu mengenal karakter motor kita seperti apa. Check kelengkapan dan perawatannya apakah sudah memadai atau belum. Lingkungan dan kondisi jalan juga bisa berpengaruh terhadap kecelakaan lho guys. Misal kondisi jalan yang licin karena terguyur hujan atau cuaca berkabut yang menghalangi penglihatan pengendara. 

Dari ketiga faktor tesebut faktor manusia menjadi penyebab utama kecelakaan. Itu berkaitan dengan bagaimana pola dan mindset yang dibangun ketika berkendara (safety mind). Jika seseorang mengenal karakter motornya dengan baik, merawatnya serta sadar akan peraturan lalu lintas yang ada maka dia bisa menimalkan angka terjadinya kecelakaan. Coba deh perhatikan, meme-meme yang sering beredar mengenai ibu-ibu matik sein kiri belok kanan, ternyata memang benar adanya. Saya pernah menjumpai hal yang semacam itu di jalan. Pokoknya banyak banget hal yang patut diperhatikan ketika berkendara di jalanan guys! 

Next, bagaimana praktiknya di lapangan? Beberapa youtuber atau motovlogger Jogja mengabadikan momen-moment tersebut dalam videonya. Mulai dari awal hingga akhir. Saya ambil contoh dari videonya Bro Sutopo AKA Gondes Motovlog. Watch this guys!



Minggu, 13 November 2016

Telkom dan Spirit Inovasi dalam Atmosfer Digital Indonesia

Mendung pekat. Langit kelam. Butir-butir hujan mulai membasahi Kota Budaya. Detik demi detik berlalu mencipta deras yang tak berkesudahan. Gelegar petir. Bunyi kecipak air. Bau tanah yang khas.

Ah, hujan mengurai kenangan. Bukan kenangan tentang mantan. Bukan. Hujan Bulan November ini mengingatkanku pada Meta, a partner in crime. Meta adalah partner asyik buat seru-seruan. Jika saja... Jika saja Meta masih di Jogja, mungkin aku bisa mampir ke kosnya barang sebentar. Ah sayang, dia sudah kembali ke Bumi Sumatra, selepas diwisuda awal tahun lalu. 

Teringat percakapanku dengan Meta Februari silam melalui telepon. 

“Meta, aku mau ngirim tugas kuliah, deadline malam ini, tapi koneksi internetku lelet banget. Bahkan tadi sempat no signal. Padahal aku baru beli kuota internet kemarin. Hiks.” 

 “Kok bisa?” 

“Entahlah. Mungkin cuaca sedang tidak bersahabat.” 

“Mampir aja ke kosku Arinta, di sini internetnya lagi kenceng-kencengnya. Ayo gih, mumpung hujan belum deras. Sekalian aja nginap di sini kalau mau. Aku ada oleh-oleh keripik pisang cokelat dan kopi Lampung lho.” 

Ah kombinasi yang perfect! Camilan, secangkir kopi hangat, dan internet. Siapa yang tak betah menikmatinya? Beruntung sekali Meta. Di kosnya ada wifi. Kenceng pula. Aku yang kerap fakir kuota internet sering nebeng di kosnya sekadar mendownload tugas kuliah atau menonton stand-up comedy via youtube. Jika aku menginap di kosnya, Meta pasti menyediakan stok camilan buat dimakan bersama. Ah, momen itu! 

“Internetmu kok lancar jaya meski hujan gini sih Met?” tanyaku kala itu. 

“Di sini sudah pake Indihome Ta. Jadi dalam kondisi apapun sinyal internet tetap stabil.” 

“Asik tahu. Mau dah tiap hari mampir ke kosmu dan ngerampok makanan...hahaha” Candaku kala itu. 

“Ah kamu Arinta, dasar predator. Enggak heran gendutan sekarang. Ingat berat badan Ta. Orang baper jadi mudah laper...ahahaha” Tawanya meledak. Terkekeh-kekeh. Sedikit meledek. 

“Ugh sial! Gendut katamu!” Aku pura-pura marah. Yang diujung telepon malah cengegesan. 

“Ayo gih cepat ke sini. Entar keburu hujan malah enggak jadi.” Akhirnya kututup telepon sembari bergegas ke kosan Meta. 

Itu dulu. Dulu saat Meta masih di sini. Di kota sejuta kenangan. Jogja. Sekarang Meta telah kembali ke kampung halaman. Merangkai episode baru di sana. 

Bagiku internet sangatlah berarti. Jika kuota internetku habis. Mati sudah! Aku kudu beli lagi. Kalau lagi enggak ada duit, aku cari-cari teman yang mau berbagi internet. Thetering atau apalah istilahnya. Lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Upss salah. Lebih baik enggak jajan daripada enggak beli kuota. Ada kuota internet, tapi sinyal lelet itu sama saja. Mending nyebur ke laut.

“Coba kamu ganti pakai Simpati. Dijamin antilelet. Lha aku Ta, selama KKN pakai itu. Padahal daerah tempatku KKN lebih terpelosok darimu. Tapi kecepatannya tetap stabil. Aku masih bisa facebookan dan twitteran. Recommended deh!” Ujar Meta ketika aku curhat mengenai kendalaku ketika KKN di Dukuh Blimbing, Kabupaten Gunung Kidul tahun 2014 silam. Semenjak itu, selama 2 bulan KKN aku memakai Simpati. Hingga kini aku masih setia dengannya. Eaaa.
Internet menjadikan hidup kita lebih praktis dan efisien. Kamu pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, freelance, pekerja kantor, pebisnis, apapun latar belakang dan profesimu pasti membutuhkan internet. Kirim dan simpan data atau file, berjejaring via media sosial, belanja (online), browsing, aktivitas apapun pasti menggunakan internet. Di era digital seperti sekarang ini, internet sudah seperti kebutuhan pokok. Yang terpenting, bagaimana kita menggunakankan media tersebut untuk sesuatu yang bermanfaat dan berdampak positif. Sampai di sini sepakat?

Selain di kosan Meta, aku menemukan tempat nongkrong asyik dengan suasana cozy yang menyediakan akses internet cepat. Gratis pula. Jogja Digital Valley, demikian nama tempat tersebut. Jogja Digital Valley atau biasa disingkat JDV merupakan co-working space sekaligus digital startup Incubator dari Telkom. Ah, baiklah aku punya sedikit cerita. Dengarkan baik-baik.
Lokomotif ekonomi. Big size. Ikonik. Impactful. Demikan Prof. Rhenald Kasali menjelaskan 4 komponen utama sebuah powerhouse. Siapa yang tidak kenal Prof. Rhenald Kasali? Beliau seorang guru besar ekonomi, socialpreneur sekaligus penulis buku yang kerapkali mengulas topik-topik yang berhubungan dengan perubahan. Change! Ini sangat menarik. Dalam bukunya yang berjudul  Mutasi DNA Powerhouse, Prof. Rhenald memaparkan bahwasanya powerhouse merupakan sebuah kekuatan raksasa. Dalam hal ini, powerhouse bisa dikatakan sebagai sebuah rumah besar berbentuk badan usaha yang mengayomi puluhan ribu hingga ratusan ribu orang. Kehadiran suatu powerhouse berdampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebagai lokomotif ekonomi, dia kuat dan  powerful. Big size di sini artinya besar. Baik besar dalam jumlah SDM, dukungan teknologi, pangsa pasar, profit, pajak, pendapatan, dan sebagainya. Dia juga mampu menjadi ikon suatu bangsa. Terakhir, impactful. Langkahnya, baik maju ataupun mundur memiliki dampak cukup signifikan.

Telkom merupakan sebuah powerhouse yang bergerak di bidang informasi, telekomunikasi dan jaringan. Perjalanannya menembus rimba belantara di era yang semakin kompetitif seperti sekarang ini sangat berat. Tidak mudah. Bahkan berdarah-darah. BUMN dengan logo telapak tangan menggenggam bola dunia ini pun terus berbenah. Melangkah. Bergegas. Mendengarkan suara-suara perubahan. Sebab, Indonesia semakin digital. Sebagai perusahaan teknologi yang sudah makan asam dan garam puluhan tahun, Telkom sadar akan atmosfer digital Indonesia yang semakin menguat. Mata elangnya yang tajam dan visioner selalu awas. Telkom haruslah terdepan dalam hal inovasi.

Melalui sinergi dan kolaborasi quad-helix ABG-C (Academic, Business, Goverment, dan Community), Telkom yakin dan optimistis mampu membentuk ekosistem digital Indonesia yang kreatif, inovatif, dan memberdayakan. Inovasi bisa lahir dari dalam (internal perusahaan) dan dari luar (eksternal perusahaan). Human capital adalah aset. Maka dari itu, Telkom membuat program-program dan komunitas yang menumbuhkan jiwa digital kreatif di kalangan generasi muda Indonesia. Telkom kemudian menggandeng digital talent (startuper) untuk membuat terobosan-terobosan yang bersifat solutif.
Indigo Creative Nation contohnya. Indigo merupakan wujud nyata dan komitmen Telkom guna mendorong pertumbuhan industri digital kreatif Indonesia. Lewat Indigo, para digital talent akan mendapat dukungan melalui program inkubasi dan akselerasi bisnis. Tak lupa mulai dari tahap ideasi hingga pendanaan. Tema yang diusung di tahun 2016 ini yakni Building Strong Indonesia Digitalpreneur with Disruptive Mindset dengan tagline Grow Together Work Together.  Belum cukup. Telkom pun mengembangkan Digital Innovation Lounge (Dilo) yang tersebar di belasan kota besar di Indonesia serta Digital Valley (Diva) yang merupakan co-working space sekaligus tempat inkubasi dan akselarasi para digital talent (startuper). Khusus Digital Valley saat ini hanya ada di 3 kota besar, yakni Bandung, Jogja, dan Jakarta. Tenang saja, telkom memfasilitasi akses internet cepat, stabil, dan gratis kok baik di Dilo maupun Diva.

Pada masa-masa awal pendirian program Indigo, banyak suara-suara yang menyangsikannya. Skeptis. Meragukan kesuksesannya. Jika diibaratkan, program ini sekadar hangat-hangat tahi ayam. Namun, seiring berjalannya waktu, ditambah atmosfer digital Indonesia yang semakin menguat, Telkom berhasil menelurkan berbagai startup dan produk digital yang inovatif, kreatif, dan juga solutif. Seperti yang diulas Tech In Asia berikut, inilah daftar 9 startup yang terpilih pada program Indigo batch 1 tahun 2016. Sedangkan untuk batch 2 ada 13 startup yang berhasil lolos. Bagaimana ide-idenya? Unik dan menarik bukan?

Indigo Creative Nation sendiri terinspirasi dari Silicon Valley yang menyebarkan semangat kolaborasi dan berbagi yang berasal dari komunitas untuk komunitas. Edukasi dan awarding untuk produk digital kreatif saja belumlah cukup, harus ada upaya pembinaan para digital talent.  Telkom sadar akan hal itu. Maka di tahun 2016 ini Telkom mendukung pemerintah untuk melahirkan 1000 teknopreneur hingga tahun 2020 dengan menggandeng akademisi dan masyarakat. Misalnya nih bekerjasama dengan kampus ITS, Telkom mendirikan Digital Innovation Lounge Surabaya. 
Ada 6 kategori produk yang bisa dipilih dan dikembangkan oleh startup
Kalau kamu ada di Jogja sesekali mampirlah ke Jogja Digital Valley (Jogdiva). Untuk mendapatkan akses internet cepat dan gratis, kamu kudu daftar jadi member dulu. Sebab akses masuk sudah menggunakan fingerprint scanner. Otomatis admin membutuhkan data lengkap kamu. Apa yang didapat setelah jadi member? Banyak banget benefitnya. Salah satunya kamu bisa sewa ruang buat meeting, bahkan gratis lho. Bisa juga ikut event seru seperti workshop, seminar, dan talkshow bertema teknologi tentunya. Tentunya dari event-event tersebut kamu bisa menambah jejaring, pengalaman, pengetahuan dan skill. Komunitas pun diperkenankan berbagi ide dan pengetahuannya di sini. Misal nih, Jogdiva memperkenankan Gamelan (komitas game developer Jogja) mengadakan sesi diskusi terkait pengembangan game.

Bulan lalu, di event JDV #TechTalk, Jogdiva menghadirkan beberapa narasumber yang mengulas Financial Technology & Cyber Crime. Narasumber tersebut di antaranya dari Telkom, Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Pusat Studi Forensik Digital Universitas Islam Indonesia (PUSFID UII), dan pelaku startup. Nah, khusus bulan ini pas aku liat di websitenya Jogdiva, ada seminar dari Kominfo terkait penggunaan tanda tangan digital beserta keamanan dan keasliannya terhadap suatu data atau dokumen elektronik. Ternyata enggak sembarangan lho penggunaan digital signature ini. Ada semacam kunci kriptografisnya yang sifatnya privat dan rahasia.

Masih berkaitan dengan Financial Technology. Perlu diketahui pemirsah, Financial Technology atau Fintech merupakan topik yang sedang hangat diperbincangkan terkait bidang inovasi digital di sepanjang tahun 2016 ini. Sepertinya kita belum cukup familiar dengan terminologi Fintech ya? Secara sederhana, FinTech dapat dikatakan sebagai perusahaan di bidang teknologi yang menawarkan layanan atau produk yang berhubungan dengan dunia finansial. Mengutip dari Accenture Asia Pasific, FinTech merupakan sebuah segmen dari suatu perusahaan atau startup yang memaksimalkan penggunaan teknologi guna mengubah, mempercepat, dan mempertajam berbagai aspek dari layanan keuangan.

Telkom melalui anak perusahaanya Telkomsel menawarkan layanan keuangan digital selayaknya dompet elektronik yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti bayar tagihan, kirim pulsa, bayar transaksi di suatu ecommerce, dan sebagainya. FinTech Telkomsel ini bernama TCash. Aku termasuk pengguna layanan fintech bernama TCash tersebut.

Untuk menjadi pengguna Tcash kamu harus memakai kartu dari Telkomsel, entah Simpati, Kartu Halo atau Kartu As. Tcash memudahkan aku membayar tagihan listrik, aku enggak perlu perlu lagi mengantri lama di kantor pos. Selain itu bagian yang asyik adalah banyak promo menarik dan diskon gede (terkadang sampai 50%) dari merchant yang bekerjasama dengan Tcash.
Tcash dapat diibaratkan sebagai dompet digital
Indonesia semakin digital. Sekali lagi, teknologi memudahkan hidup kita. Bahkan sebelumnya tak terpikirkan tentang dompet elektronik dan layanan keuangan digital. Teknologi dan inovasi hadir membawa realitas baru.

Aku beruntung sekali bisa bergabung di komunitas Jogja Digital Valley. Bisa mengikuti event-event keren. Bisa memperoleh pengetahuan terkait inovasi digital Telkom dan para startuper. Dapat akses internet cepat dan juga wifi.id.

Ada secuil alasan kenapa aku betah seharian nongkrong di sini. Jogdiva itu tempatnya cozy banget. Cocok buat freelance dan digital talent. Ada kafenya. Aku bisa ngenet sembari menikmati segelas good day dan 3 bungkus chocolatos. Kursinya empuk dan nyaman. Udah gitu aku bisa mendengarkan lagu-lagu terbaru yang lagi ngehits dan  menonton kanal tv lokal maupun internasional via USEETV Indihome. Jogdiva juga termasuk area yang menjangkau wifi.id. Dengan wifi.id kamu bisa menikmati internet ngebut sampai 100 Mbps. Gimana enggak asyik?
Wifi.id bisa diakses di Jogja Digital Valley
Aku pakai wifi.id buat nonton video, streamingan, atau kalau ada live seminar di telegram dan sebagainya. Kayak beberapa waktu lalu ada Webinar dari Inspira tentang bagaimana studi di USA. Wah pengen banget tahu tentang itu, meski belum ada rencana buat study abroad dalam waktu dekat ini. Tapi minimal aku mendapatkan informasi-informasi yang harus aku persiapkan ketika mau lanjut studi ke USA.

Paling sebel kalau lagi nonton video terus buffering. Nah solusiku ya pakai wifi.id ini aja. Lagi seru-seru nonton malah loading. Lagi asyik-asyik download malah failed. Bikin bete. Enggak mau dah kejadian kayak gitu terulang lagi. Sudah putuskan saja! Ya sejak itu aku putuskan pakai wifi.id. Aku memanfaatkan wifi.id untuk mengunduh dan mengoleksi video-video presentasi TED Talks edisi Bahasa Inggris. Lewat video TED Talks tersebut, aku belajar budaya negara lain serta bagaimana gaya komunikasi seseorang.Ya siapa tahu kan nanti dapat kesempatan ke USA atau Eropa, jadi udah punya bekal bahasa.
Selain di Jogja Digital Valley, kita bisa menikmati akses wifi.id di wifi.id corner Kotabaru Yogyakarta
Di youtube kan banyak banget tuh video tutorial, baik tutorial desain, masak, hijab, creative DIY making project, dan sebagainya. Jadi kita bisa belajar mandiri sekaligus mengasah keahlian lewat video. Bicara tutorial, aku jadi ingat Anggara. Pertama kali ketemu dia ya di Jogdiva ini. Ternyata Anggara seorang desainer grafis 3D. Anggara menggunakan Autodesk Maya untuk membuat karakter-karakter animasi dan game. Ya Anggara menjual hasil karyanya lewat forum-forum internasional. Dia dibayar dengan dollar. Buah kerja kerasnya terbayar lunas. Sebelumnya Anggara harus berlatih mendesain karakter 3D selama berjam-jam di ruang kosnya yang sempit. Anggara belajar desain 3D secara autodidak via youtube dan vimeo. Anggara memanfaatkan jaringan wifi di kosnya untuk belajar dan mengasah keahlian. Kegiatannya tersebut dilakukannya selama setahun. Anggara fokus. Hingga dia bisa menikmati jerih payahnya. Hasil memang tak akan mengkhianati proses. Mantap ya si Anggara ini?

Kamu. Iya kamu. di era yang semakin digital seperti sekarang ini, apa hal-hal yang sudah berhasil kamu kembangkan?
Voucher wifi.id edisi Slank
Ini voucher wifi.id-ku. Gambar cover depan Slank. Ini edisi khusus. Kayaknya sudah enggak keluar lagi deh sekarang. Meskipun demikian masa aktif voucher tersebut sampai 31 Mei 2017. Harganya murah kok, dengan Rp 5.000 kita bisa menikmati akses internet cepat hingga 12 jam. Puas-puasin deh nonton youtube tanpa buffering.

Terima kasih Telkom. Telkom begitu adaptif terhadap perubahan. Telkom begitu memahami kebutuhan kami, para generasi digital. Aku berharap ke depannya semakin banyak inovasi yang dikembangkan Telkom. Berkaryalah untuk negeri! #IndonesiaMakinDigital

 Tabik!

Kamis, 29 September 2016

Dua Hal Menarik di Event #NgobrolBloggerDIY Bersama BCA

Ada event keren yang diadakan oleh BCA pada hari senin 5 September 2016. Nama event tersebut NgobrolBareng Blogger Yogyakarta. Beruntung sekali saya mendapat kesempatan hadir di event tersebut. Enggak sia-sialah pokoknya saya datang ke sana. Tempatnya berlokasi di Roaster & Bear. Saya suka Roaster & Bear. Alunan musik dan suasananya cozy banget deh pokoknya. Di lantai 1 saya berpapasan dengan Mas Nasirullah, pemilik nasirullah.com. Kirain acaranya di lantai 1 ternyata kami salah. Acara di lantai 2. Sesampainya di lantai 2, ternyata sudah banyak blogger yang berkumpul sembari menikmati live musik dari band lokal. 

Untung saya datang agak awal jadi bisa milih tempat duduk. Saya duduk tidak jauh dari 2 MC yang membuat suasana menjadi ‘lebih bernyawa.’ Gokil banget deh MC-nya. Sesekali saya tertawa.

Saya pun menyiapkan amunisi berupa smartphone dan juga blocknote untuk mencatat hal-hal atau poin-poin yang sekiranya menarik untuk dicatat. Biasanya sih untuk mendapatkan hasil foto yang mumpuni saya membawa kamera digital. Namun, karena ada sedikit masalah dengan kartu memorinya, jadi untuk sementara kamera digital saya tinggal di rumah. Saya pun berangkat cukup berbekal kamera smartphone. 
Ada Booth Photo lucu di acara Ngobrol bareng Blogger DIY dan BCA. Bonekanya ngegemesin.
Memasuki sesi materi pertama, menghadirkan seorang narasumber yang berkecimpung di dunia seni ilustasi dan desain. Yehezkiel Cyndo, demikian nama artpreneur kita kali ini. Tak salah lagi, Mas Cyndo demikian sapaan akrabnya, memiliki latar belakang pendidikan di dunia desain produk. Dengan kemampuannya di bidang seni visual Mas Cyndo memperkenalkan sekaligus menjual karyanya melalui media sosialnya. Terutama Instagram (Kalau kamu penasaran bisalah intip-intip di akun instagramnya @yehezkielcyndo) dan juga facebook. Ini sangat menarik menurut saya sebab saya juga seorang penikmat seni. Sesekali jika memiliki waktu luang, saya sempatkan mengunjungi galeri seni. Saya suka membayangkan betapa gila dan kreatifnya seorang seniman ketika membuat sebuah karya.
Keren yak karya-karya Mas Cyndo yang diposting di akun instagramnya? Mas Cyndo adalah orang yang sangat tahu akan passionnya. Dia terus mengasah dan mengembangkannya keahliannya di biang seni ilustrasi. Mas Cyndo juga pernah menantang dirinya sendiri, “berani enggak kita menjadi kreatif? Berani enggak kita hidup dari karya kita sendiri?” Ini sangat menarik menurut saya. Benar-benar inspiratif.
Sembari mendengarkan pemaparan dari Mas Cyndo saya menyantap lidah sapi dan lemon tea pesanan saya. Kelihatan banget kan kalau saya sudah mulai kelaparan? So, enjoy the dinner. Nyam...nyam...
Nah materi selanjutnya datang dari Mas Gunawan Jusup, selaku perwakilan dari BCA. Di era yang digital seperti sekarang ini orang lebih mengutamakan smartphone ketimbang dompet. Melalui smarphone kita bisa terkoneksi ke segala akun media sosial kita dan juga berbagai aplikasi yang kita butuhkan. Karena semua serba digital. Serba online.
Namun bagaimana jadinya kalau smartphone bisa dijadikan dompet? Memahami akan hal itu, BCA memperkenalkan sebuah aplikasi bernama Sakuku. Apa itu Sakuku? Sakuku dapat dikatakan sebagai dompet digital kita. Dengan aplikasi Sakuku di smartphone, kita bisa membayar saat berbelanja di toko atau retail online. Selain itu kita bisa mengisi pulsa dan melakukan transaksi perbankan lainnya. Jadi kita enggak perlu repot-repot bawa uang segepok atau kartu kredit di dompet. Cukup download aplikasi Sakuku di App Store bagi pengguna iOS (iOS 7.1 ke atas) dan Play Store bagi pengguna Android (OS 4.0 ke atas). Gratis, tidak ada biaya administrasi bulanan. Nantinya nomor ponsel kita akan menjadi nomor kepemilikan Sakuku. Selanjutnya lengkapi data dan verifikasi disertai pembuatan pin Sakuku yang terdiri dari 6 digit numerik. Setelah Sakuku aktif kamu bisa top up dengan maksimum saldo Rp 1.000.000. Untuk Sakuku Plus kamu bisa top up saldo hingga Rp 5.000.000. Aplikasi Sakuku bisa dipakai siapa saja baik nasabah BCA maupun non nasabah BCA sekalipun.

Lalu apa keuntungan dari aplikasi ini? Selayaknya dompet digital, dengan Sakuku kamu bisa Cek Saldo, Mutasi Transaksi (ragam transaksi yang kamu lakukan bisa dilihat di fitur ini), Bayar Belanja (baik melalui online ataupun offline merchant), dan Isi Pulsa. Selain itu, Sakuku bisa digunakan selayaknya media sosial. Kita bisa saling terhubung kepada pengguna atau teman yang menggunakan aplikasi tersebut.

Lalu apa bedanya Sakuku dengan Sakuku Plus? Untuk Sakuku Plus ada fitur tambahan seperti fitur Transfer, Split Bill, dan TarikTunai di ATM BCA. Begini penjelasannya, untuk fitur Transfer, kamu bisa mentransfer atau ditransfer sejumlah dana minimal Rp 5.000 antar sesama pengguna Sakuku Plus. Split bill, dengan memakai fitur ini kamu bisa berbagi tagihan ke sesama teman. Pokoknya bayar apa saja bisa dibagi rata. Nah terakhir Tarik Tunai di ATM BCA, dengan Sakuku Plus, kamu bisa tarik tunai di ATM BCA manapun yang bertanda Tarik Tunai Sakuku. Kamu tidak perlu menggunakan kartu lagi semisal kartu ATM untuk tarik tunai. Uang yang ditarik kelipatan Rp 50.000 dengan maksimal penarikan Rp 1.250.000 untuk setiap kali transaksi. Gimana nih? Tertarik enggak?

Dari event #NgobrolBloggerDIY tersebut saya mendapat dua poin menarik untuk dicatat. Dapat dikatakan pula sebagai dua pelajaran yang berharga. Poin pertama, bagaimana mengemas ide agar mampu memiliki nilai jual. Dalam hal ini Mas Cyndo telah berhasil memperkenalkan seni ilustrasi dan menjual karya-karyanya melalui media sosial yang dimiliki. Berani kreatif? Berani dong. Poin kedua, bagaimana di era digital ini dunia perbankan, terutama BCA begitu adaptif terhadap perkembangan teknologi. Beberapa waktu yang lalu saya sempat membuat postingan tentang financial technology yang menjadi tren baru di era ekonomi digital. Kehadiran financial technology ini turut  mendukung produk, sistem, dan layanan keuangan dan dunia perbankan di Indonesia. Nah aplikasi Sakuku merupakan salah satu produk atau layanan financial technology dari BCA, selain internet (BCA KlikPay) dan mobile banking tentunya. Jadi nih guys kalau dompetmu lagi bolong tapi pengin nongkrong enggak apa-apa, asalkan ada saldo di Sakuku ehehe.

Selasa, 27 September 2016

Karena Detak Jantung Begitu Berharga

Ruangan berkapasitas 100 peserta itu kini mulai penuh. Satu per satu peserta menduduki seat yang disediakan. Acara seminar teknopreneurship yang mengundang pembicara salah satu pelaku ecommerce sukses Indonesia akan dimulai 17 menit lagi. Barangkali saya terlalu bersemangat sehingga datang 35 menit lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan panitia. 

Di samping kiri saya ada 2 anak muda yang asyik berbicara. Sepertinya ada sesuatu menarik yang sedang mereka perbincangkan. Saya mencoba mencuri dengar. Dua pemuda tersebut menyebut-nyebut nama Yasa Singgih. Yasa Singgih? Saya cukup penasaran. Namun suasana yang semakin ramai membuat pembicaraan 2 anak muda tadi timbul tenggelam. 

Yasa Singgih. Siapa dia? Saya semakin penasaran hingga mengetikkan 2 kata tersebut di mesin pencari. Terdapat 96.900 hasil pencarian dalam waktu 0,39 detik. Saya baca beberapa artikel yang muncul di halaman pertama google. 

Yasa Singgih merupakan miliuner muda yang sukses di usia 20 tahun. Di usia yang begitu belia, Yasa membawa label fesyen miliknya Mens’s Republik hingga mendunia. Tercatat namanya pernah masuk dalam daftar Forbes sebagai pengusaha muda berpengaruh dalam industri ecommerce Indonesia. 

Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya. Yasa muda harus berjuang mandiri di usia belasan tahun. Di usia 15 tahun, sang ayah mendapat hipertensi dan serangan jantung yang mengharuskan pemasangan ring jantung. Pemasang ring (cincin) jantung merupakan prosedur untuk melebarkan pembuluh darah koroner yang menyempit atau tersumbat di bagian jantung. Tentu saja biaya perawatan sang ayah di rumah sakit tidaklah kecil. Bahkan saat itu Yasa sempat bimbang bagaimana membiayai sekolahnya sekaligus pengobatan sang ayah. Semenjak itu Yasa bertekad untuk mencari uang sendiri demi kesembuhan sang ayah tercinta. Kisah Yasa menyentuh hati saya. 

Kilas balik. Saya jadi teringat Eka, seorang sahabat asal Lombok yang mengambil jurusan seni rupa. Eka seangkatan dengan saya. Semangat dan motivasinya untuk kuliah di Pulau Jawa luar biasa tinggi. Ketika berkunjung ke kosannya, sejumlah alat lukis seperti kanvas-kanvas, palet, cat air, cat minyak, dan juga sketsa-sketsa bertebaran. Saya mengagumi bagaimana Eka mengekspresikan karya-karyanya melalui goresan kanvas.

Belum lama ini Eka diwisuda setelah menyelesaikan pendidikannya selama 4 tahun. Namun sayang, Eka menghadap Tuhan lebih cepat dari saya. Saya mendengar kabar tersebut dari Mbak Linda, teman dekat Eka. Kena jantung dek, begitu kata Mbak Linda. Singkat.

Lagi-lagi jantung. Sungguh sedih membayangkan orang yang dicintai meninggal karena penyakit jantung. Penyakit kardiovaskular atau jantung adalah salah satu mesin pembunuh paling mematikan di dunia. Berdasarkan artikel yang dipublikasikan oleh Yayasan Jantung Indonesia, dulu mayoritas penderita penyakit jantung adalah orang yang berusia senja. Namun, kini anak muda pun bisa terkena penyakit ini. Salah satu penyebabnya yakni gaya hidup tidak sehat. 
Seperti apa gaya hidup yang tidak sehat itu? Beberapa contoh dari gaya hidup tidak sehat yakni berupa kebiasaan merokok, terlalu sering mengonsumsi minuman beralkohol, junk food, makanan dengan kadar kolestorel tinggi dan sebagainya. Bagaimana gaya hidup yang sehat? Untuk mendukung gaya hidup sehat buat jantung sehat, Yayasan Jantung Indonesia menganjurkan masyarakat untuk menerapkan Panca Usaha Jantung Sehat yang meliputi : seimbangkan gizi, enyahkan rokok, hadapi dan awasi stress, awasi tekanan darah, dan teratur berolahraga. Gaya hidup sehat investasi masa depan.
Sakit itu selain tidak enak bisa menjebol isi kantong. Sakit bisa menyerang siapa saja tanpa pandang bulu. Maka dari itu perlu tindakan preventif untuk mencegah suatu penyakit, apalagi penyakit jantung yang dianggap sebagai monster paling berbahaya. Konsumsi sayur-sayuran, kacang-kacangan, ikan, dan buah adalah modal awal untuk memulai gaya hidup sehat. Olahraga bisa dimulai dengan lari-lari kecil (joging) di pagi atau sore hari. Kalau tidak sempat minimal seminggu sekali luangkan waktu untuk ikut senam. Saya sendiri membiasakan berjalan kaki atau bersepeda jika ke kampus, sebab aktivitas tersebut selain bagus buat kinerja jantung dan paru-paru, bagus juga untuk menguatkan otot kaki. Saya tidak merokok dan sangat menghindari asap rokok. Namun terkadang para perokok pasif berkeliaran bebas di angkutan umum dan fasilitas publik lainnya. Untuk menghindari paparan asap rokok di tempat umum saya sarankan gunakan masker wajah.
Jangan lupa seimbangkan jam biologis dan perhatikan kondisi psikologis kita. Jam biologis dapat diartikan sebagai waktu di mana tubuh harus beristirahat dan melakukan berbagai aktivitas fisik selama 24 jam. Idealnya manusia tidur (istirahat) membutuhkan waktu kurang lebih 7-8 jam per hari. Jangan sampai memaksa tubuh bekerja tanpa jeda, misal dengan lembur sampai pagi. Dalam jangka lama, hal tersebut tidak baik untuk kesehatan jantung. Stres juga bisa memicu hipertensi dan serangan jantung. Lakukan hal-hal menyenangkan bersama orang yang dicintai untuk menghilangkan stres. Travelling dan nonton stand-up comedy misalnya. Cara-cara ini cukup sederhana dan terbilang murah bukan?
Bu Tri adalah guru kimia saya sekaligus figur yang menginspirasi gaya hidup sehat. Saya tahu beliau memiliki riwayat penyakit jantung, tetapi semangatnya mengajar dan mendidik siswanya luar biasa besar. Semangat itulah yang membuat beliau bertahan hingga kini. Saya masih ingat bagaimana wejangan beliau tentang gaya hidup sehat dimulai dari memilah makanan yang akan dikonsumsi. Perhatikan komposisi bahan kimianya! Ujar beliau di suatu kelas kimia. Karena detak jantung begitu berharga!

Jumat, 15 Juli 2016

Cerita Perjalanan dan Seni dalam Bingkai Kamera Ponsel

Suatu malam, saya membongkar dokumen lama, mata saya tertuju pada sebuah album foto. Saya buka-buka album itu. Album tersebut mengingatkan kembali cerita perjalanan masa lalu. Memori putih abu-abu. Saya telusuri teman-teman dan juga guru-guru saya. Mengenang kembali sudut-sudut sekolah seperti ruang guru, lapangan basket, kelas-kelas, dan tentu saja pojok favorit kami : kantin. Saya terkikik kala mengingat anak-anak IPS yang kerap bolos jika guru tidak ada. Bolosnya bukan ke mana-mana kok, cuma nongkrong di kantin sampai habis jam pelajaran. Saya senyum-senyum sendiri ketika saya dan satu angkatan (IPS) dihukum guru olahraga (Pak Warji) di lapangan basket.

Namun, ada beberapa hal yang saya sesali. Album tersebut adalah satu-satunya cetak sejarah yang sempat terdokumentasikan. Selebihnya sedikit sekali saya memiliki rekaman kenangan berupa foto, apalagi dalam bentuk digital. Padahal ada banyak hal yang layak diabadikan. Ada narasi yang bisa ditulis dari memori putih abu-abu. 

Kondisi tersebut berbanding terbalik saat kuliah (sekarang), di mana saya memiliki banyak sekali dokumentasi foto dan juga video yang tersimpan rapi di laptop. Saya bisa menyortir, mengedit, bahkan menghapusnya jika dirasa tidak perlu. Di era digital seperti sekarang ini, mudah saja berbagi dokumentasi berupa foto dan video di blog dan kanal media sosial yang kita miliki. Bukankah begitu? Rekam jejak kita akan tersimpan abadi.

Saya sadar, saat SMA saya tidak memiliki ponsel berkamera mumpuni yang mampu merekam setiap jengkal kenangan. Entah kenangan saat kenaikan kelas, buka bersama dan hangout bareng teman, jalan-jalan ke luar kota, kompetisi, class meeting, kelulusan hingga wisuda dan perpisahan sekolah. Dulu, bagi saya sebuah ponsel dengan kamera beresolusi tinggi adalah barang mahal. Sebuah kemewahan tersendiri. Ponsel jadul saya cuma bisa buat kirim sms dan telepon. Nada deringnya itu-itu doang. Udah gitu enggak ada radio dan album musik. Jadi enggak bisa mendengarkan lagu favorit deh. Ngenes banget kan?

Seiring berjalannya waktu, ponsel biasa bertransformasi menjadi ponsel cerdas (smartphone). Beragam keunggulan dan spesifikasi ditawarkan. Harganya pun kian terjangkau bagi masyarakat. Bisa dikatakan hampir semua orang memiliki ponsel cerdas. Entah pelajar, mahasiswa, emak-emak, tukang becak, tukang sayur, tukang ojek, dan sebagainya. Keberadaan ponsel cerdas menyentuh berbagai level. Tidak hanya kelas menengah atas, tetapi kalangan marginal juga bisa dengan mudah memilikinya. 

Ketika saya mencari ponsel cerdas, ada dua hal yang saya perhatikan. Yang pertama adalah brand dan yang kedua adalah keunggulan (berbagai fitur dan spesifikasi yang ditawarkan). Dan hati saya sudah memilih. Saya jatuh cinta pada ASUS ZENFONE. With ASUS Zenfone i can capture and share incredible journey. Save the moment like an art project.  

Beautiful and awesome! Zenfone 2 Laser (ZE500KL) is my choice. Why Zenfone 2 Laser? This is the reason. Watch this video...

Mari kita ulik lebih jauh si Zenfone 2 Laser ZE500KL. Yuk kepoin apa yang menarik dari ponsel cerdas satu ini. Nah untuk zenfone seri ini, layarnya tuh sudah memakai teknologi antigores Corning Gorilla Glass 4 (ketahan fisik layar terhadap goresan, retakan, dan benturan sangat terjamin). Di dalamnya sudah disematkan OS Android Lollipop dipercantik dengan Zen UI versi terbaru. RAM-nya sudah 2 GB. Ada 2 varian kapasitas penyimpanan yaitu memori internal 8 GB dan 16 GB. Jikalau masih kurang bisa ditambahi memori eksternal dengan kapasitas maksimal 128 GB. Wuih kalau gini mah tidak hanya mampu menyimpan ribuan foto, tetapi video dan film favorit juga bisa. Untuk mendukung performa dan kinerjanya, ponsel cerdas 5 inchi ini menggunakan chipset Qualcomm Snapdragon 410 dan prosesor Quad-core 1.2 GHz Cortex-A53. Koneksi internet sudah menggunakan teknologi 4G LTE.

Apa lagi ya? Ponsel cerdas ini memiliki fitur unggulan, terutama di bidang fotografi. Kamera utama memiliki ukuran 13 MP, sedang kamera depan 5 MP. Nah teknologi laser autofokus pada seri ini memberikan peningkatan kualitas pada hasil foto. Bahkan jika objeknya bergerak sekalipun. Tak usah khawatir jika berada di ruangan yang agak temaram, fitur Dual Tone LED Flash akan meningkatkan kemampuan kamera saat memfoto objek di ruang minim cahaya. Saya sudah membuktikannya. Di dalam kamar kos yang gelap (perhatikan gambar di bawah) saya bisa mendapatkan hasil bidikan yang memuaskan.

Cekrak-cekrek jadi semakin asyik.
Zenfone 2 Laser ZE500KL di ruang banyak cahaya (Gb 1,2,3) & minim cahaya (Gb 4). Dokumentasi pribadi.

Sekarang saya mencoba mencari objek gambar di luar ruangan. Di halaman depan kos saya ada beberapa tanaman hias. Saya mencoba memotretnya. Perhatikan foto bunga jenis euphorbia warna kuning dan merah muda pada gambar di bawah ini. Terdapat embun pagi yang melekat pada dedaunan. Itulah menjadikan objek nampak segar dan memikat. Kesan naturalnya dapat. Jadi cantik dan nampak realistis kan si euphorbia setelah di foto menggunakan ASUS zenfone.
Embun pagi menjadikan euphorbia tampak natural dan memikat. Dokumentasi pribadi
Yuk kita ajak si ASUS Zenfone jalan-jalan. Mumpung udara pagi masih seger. Tentunya saya bisa mengabadikan banyak objek menarik. Nah pada episode kali ini saya akan mengajak kamu ke tempat keren yang ada di Jogja. Kebetulan dalam kesempatan ini ada pameran seni Art Jog 9, sebuah eksibisi yang menampilkan seni rupa kontemporer. Perlu diketahui bahwasanya Art Jog dapat dikatakan sebagai lokomotif perkembangan seni rupa Indonesia maupun Asia. Tahun ini Art Jog 9 menampilkan karya 74 seniman baik dari dalam maupun luar negeri. Pameran Art Jog 9 sendiri berlokasi di Museum Nasional Jogja

Asyiknya punya kamera ponsel yang mumpuni kayak ASUS Zenfone ya gini. Kita dengan mudah mengabadikan berbagai momen dan cerita lalu mengunggahnya di kanal media sosial atau blog yang kita miliki. Kita juga bisa membuat reportase (citizen journalism) di media online secara real time.

Dulu saya ingin sekali punya kamera DSLR biar kayak fotografer profesional gitu. Tapi kamera DSLR selain mahal, ukurannya cukup besar dan berat ketika dibawa ke mana-mana. Sedang saya suka membawa sesuatu yang praktis dan pas di saku atau kantong. Maka pilihan saya jatuh pada kamera ponsel dan ASUS Zenfone 2 Laser cukuplah bagi saya.

Dengan ASUS zenfone dalam genggaman, saya tak perlu khawatir kehilangan momen-momen berharga.
"Aku dan Kamera ponsel." Dokumentasi pribadi
"Aku dan Kamera Ponsel."  Dokumentasi pribadi

Well, sekarang kita sudah berada dalam Galeri Museum Nasional Jogja. Inilah pameran seni kontemporer Art Jog 9. Tuh apa saya bilang. Banyak dari pengunjung Art Jog 9 mengabadikan momen dengan kamera ponsel. Foto-foto di atas saya ambil secara candid. Kamera ponsel yang praktis dan mudah di bawa ke mana-mana serta terintegrasinya dengan berbagai aplikasi media sosial menjadikannya poin plus tersendiri jika dibandingkan dengan kamera DSLR.
Karya-karya hebat para seniman. Dokumentasi pribadi.
Karya-karya hebat para seniman. Selalu saja ada hal yang menarik antara manusia dengan interaksinya. Entah interaksi dengan sesamanya atau interaksi dengan ide atau gagasan. Sebab dari interaksi tersebut manusia bisa menghadirkan cipta, rasa, dan karsa.

Bagaimana karya-karya para seniman hebat setelah difoto menggunakan ASUS Zenfone? Jadi cantik? Pastilah.
Karya seni favorit saya. Dokumentasi pribadi
Dari semua karya yang ada di Art Jog 9, ketiga karya seni di atas adalah favorit saya.  Sebab, terdapat makna filosofis yang dalam dari setiap karya.
Baiklah saya akan bercerita sedikit.
  1. Karya nomor 1 berjudul "Sumbu Kosmik Memori", digagas oleh seniman Angki Purbandono. Sumbu kosmik memori merupakan sebuah ide untuk membuat poros cahaya yang dikelilingi oleh berbagai potongan fotografi. Ide awalnya berasal ketakjuban Angki terhadap Gunadharma, arsitek Candhi Borobudur. Gunadharma merekam kehidupan manusia dan ajaran Budha dengan ukiran batu. Batu tersebut disusun secara melingkar dan membentuk sumbu kosmik sebagai simbol penghubung manusia dengan Tuhan. Seperti halnya batu-batu yang disusun melingkar, ada cerita tersendiri dari setiap keping foto yang dibuat Angki.
  2. Karya nomor 2 berjudul "The Light", digagas oleh seniman Bunga Jeruk. Berikut penjelasannya, tidak diragukan lagi, seni membawa pengaruh pada semua aspek kehidupan. Dari lukisan misterius di gua sejak 30.000 tahun lampau sampai eranya Banksy, hidup kita tidak pernah lepas dari seni. Dan seniman besar adalah seniman yang mampu memberi inspirasi bagi banyak orang, terutama seniman generasi sesudahnya. Karya yang mereka tinggalkan tidak pernah mati dan memberi pencerahan bagi orang yang melihatnya. Lukisan Bunga Jeruk ini adalah bentuk penghormatan kepada mereka; manusia kreatif dengan bakat luar biasa yang mampu memberi warna pada dunia, yang membuat jutaan orang terus mendatangi museum serta membuat dunia lebih kaya, seperti yang bisa kita lihat dan nikmati saat ini. Jangan lupa, kita adalah seniman kehidupan.
  3. Karya nomor 3 berjudul "Maybe it's not always about trying to fixing something broken, maybe it's about starting over and creating something better," digagas oleh Seniman Arya Pandjalu. Berikut penjelasannya, duduk sambil menanam dan memperhatikan hijaunya dedaunan yang tumbuh di permukaan meja merupakan analogi dari sebuah pekerjaan rumah atau jerih payah yang harus dikerjakan untuk mencapai apa yang kita harapkan. Membentuk lingkungan yang ideal harus dimulai dari nol, dari diri sendiri, dari hal terkecil, sederhana, dan logis untuk mendukung terciptanya hal yang lebih besar atau kita idamkan.
Menikmati perjalanan pulang dengan Trans Jogja. Dokumentasi pribadi.
Tak terasa berjam-jam saya mengitari setiap sudut museum, dari lantai 1 sampai 3. Hari mulai beranjak sore. Ini artinya saya harus bergegas pulang. Dalam perjalanan pulang saya sempat memotret jalanan Jogja yang lengang. Cekrek. Cekrek. Cekrek...

Bosan, saya pasang headset di kuping, mendengarkan musik dari Playlist. Saya tak sabar pulang dan menuliskan cerita hari ini.

Thank to ASUS Zenfone that accompany me and be the best partner!

Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com

Kamis, 30 Juni 2016

Technology Brings Me To The Next Level

Teknologi membantu hidup saya. Teknologi memudahkan hidup saya. Bagaimana tidak? Baiklah, saya akan bercerita sedikit pengalaman saya beberapa tahun belakangan ini ketika berinteraksi dengan teknologi. Technology Brings Me To The Next Level.

Semasa SMA saya ini orangnya gaptek sekali. Maka dari itu ketika menginjak kelas 2 SMA saya ikut kursus komputer. Setidaknya saya mendapat dasar-dasar teknologi informasi dan desain grafis. Meski tetap saja nilai TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) saya di kelas  biasa-biasa saja. Prestasi saya di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi tidaklah menonjol.

Semenjak kuliah (2013), saya bergabung di organisasi UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Rekayasa Teknologi (Restek) yang bergerak di bidang pengembangan riset dan teknologi (technological engineering). Saya mendapati bahwasanya teknologi itu luas sekali cakupannya. Tidak sekadar teknologi digital (internet). 

Ada 5 divisi di UKM Restek. Divisi-divisi tersebut meliputi divisi Jembatan (sekarang namanya rancang bangun), divisi mobil (meliputi rekayasa mobil listrik dan mobil hybrid), divisi robotika, divisi teknologi informasi, dan divisi Teknologi Tepat Guna (TTG). Saya sendiri bergabung di bawah naungan divisi Teknologi Tepat Guna (appropriate technology).

Semenjak itu hidup saya berubah...

Meski saya anak akuntansi, saya bisa punya lingkaran teman anak-anak teknik. Pada awalnya saya agak canggung ketika berkomunikasi dengan mereka. Takut enggak nyambung. Namun senyatanya tidak demikian. Saya malah mudah akrab dengan mereka. Sebagian anak teknik itu gokil. Di sela-sela waktu luang kuliah, saya menyempatkan diri berbagi ide-ide kreatif dengan mereka. 
Ini kali kedua saya menjadi panitia untuk event seminar technopreneurship
Sesuai tagline UKM Restek, "Berkontribusi, berkompetisi, dan berprestasi," maka dari itu ada 2 hal yang dikembangkan dalam organisasi kami yakni menciptakan kontribusi dan prestasi. Kontribusi bisa dalam bentuk penyelenggaraan event (pelatihan, workshop, talkshow, dan seminar) baik tingkat regional dan nasional, community development, dan masih banyak lagi. Ada sebagian dari kami yang suka kompetisi. Maka tiap tahun organisasi kami seringkali menjadi peserta di ajang kontes robot, kontes mobil listrik dan hybrid (di Korea dan Jepang), KJI (Kompetisi Jembatan Indonesia), kompetisi inovasi teknologi tepat guna, dan sebagainya. Karena saya tidak bisa koding atau bikin alat, maka saya lebih tertarik kompetisi di bidang karya tulis ilmiah. 
Poster di atas adalah poster UKM Restek tahun 2013. Tahun 2014 divisi mobil listrik berubah menjadi divisi mobil. Karena inovasi mobil hemat energi yang diciptakan tidak hanya mobil listrik, tetapi juga mobil hybrid. Tahun 2015, divisi jembatan berubah menjadi divisi rancang bangun. Tahun 2016, semua divisi berada di bawah naungan bidang 2 (bidang riset dan kompetisi).
Di tahun 2014 saya mendapat kesempatan menjadi steering committe lomba inovasi teknologi tingkat nasional
Di Restek, saya memiliki cukup banyak rekan yang mempunyai karya inovatif dan juga prestasi mentereng. Beberapa di antaranya berkiprah di tingkat internasional. Ada juga yang memiliki bisnis di bidang teknologi. Salah satu rekan saya yang saya kagumi sampai saat ini adalah Nova Suparmanto. Prestasinya bejibun baik lingkup nasional maupun internasional. Inovasinya sangat banyak, di antaranya dia menciptakan kompor batik bertenaga listrik (kompor batik ini lebih hemat energi dan ramah lingkungan). Di usia muda Nova sudah merintis bisnis dibidang technopreneurship.
Dangin Dauh dan Astrobike di acara Bing Bang! Show
Rekan lain yang saya kagumi yakni Dangin Dauh. Anak mekatronika angkatan 2013 ini beberapa waktu yang lalu bercerita kepada saya, berkat Astrobike dia mendapat undangan dari Andy F. Noya untuk hadir di program Bing Bang! Show. Astrobike merupakan inovasi sepeda listrik dengan sistem monitoring berbasis android (Astrobike Application). Kabarnya Astrobike juga akan dipatenkan. Wah anak 2013 aja bisa memiliki karya inovatif dan sekreatif ini ya? Keren!

Saya sadar saya tak bisa seperti mereka yang notabene anak teknik. Saya tentu saja tak mau kalah. Jika mereka menciptakan karya kreatif nan inovatif di bidang teknologi, saya justru memanfaatkan teknologi (digital) yang ada untuk mengembangkan passion saya. Setiap tahun, saya mencoba meng-upgrade kemampuan saya melalui workshop ataupun seminar. Tema workshop yang saya sukai berhubungan dengan teknologi (khususnya desain grafis dan video kreatif) serta kepenulisan. Berikut pelatihan yang pernah saya ikuti terkait teknologi.
  • Workshop animasi 3D menggunakan software Blender (2013). Eitsss Blender? Ini bukan blender yang buat bikin jus sayuran atau buah sobat blogger. Blender yang saya maksud merupakan software tiga dimensi (3D) berbasis open source (gratis dan bebas diunduh siapa saja) yang dapat digunakan untuk membuat animasi dan juga game. Workshop tersebut diselenggarakan oleh divisi IT UKM Restek.
  • Workshop membuat game menggunakan software Construct 2 (2014). Seperti hanya Blender, Construct 2 merupakan software yang sifatnya open source. Enaknya pakai Construct 2 adalah kita bisa bikin game tanpa perlu koding. Workshop tersebut diselenggarakan oleh divisi IT UKM Restek.
  • Workshop membuat video interaktif menggunakan aplikasi Sparkol (2015). Sparkol merupakan aplikasi berbayar. Jika ingin mencobanya silakan menggunakan versi trial di internet. Worksop tersebut diselenggarakan oleh divisi IT UKM Restek.
  • Workshop desain grafis (2D) menggunakan sofware Inkscape (2016). Berbeda dengan Corel atau Photoshop, Inkscape merupakan software yang bersifat open source. Workshop tersebut diselenggarakan oleh KM Al Musthofa FIK UNY.
Saya belum terlalu tertarik bikin game atau karya 3D. Saat ini yang saya optimasi adalah kemampuan membuat desain 2D dan juga video kreatif. Dua hal tersebut sangat membantu saya dalam mempercantik postingan blog atau slide presentasi. Pernah saya membuat satu postingan blog memaksimalkan beberapa software sekaligus (saya pakai CorelDraw, Photoscape, PowerPoint, Paint, dan Sparkol).

Karya di bawah ini saya buat menggunakan PowerPoint. Cara membuatnya simple kok. Kapan-kapan saya buat tutorialnya.
Contoh karya yang pernah saya buat dengan memanfaatkan PowerPoint
Saya memulai ngeblog sekitar bulan Maret 2015. Awalnya saya cuma iseng saja. Pada bulan Oktober 2015 saya memberanikan diri ikut suatu kontes blog. Itu adalah kontes blog pertama yang saya ikuti. Alhamdulilah, postingan tersebut terpilih menjadi postingan favorit versi blogdetik. Sejak itu saya semakin bersemangat ngeblog. Tak lupa saya mengoptimasi kemampuan di bidang desain grafis dan video kreatif. Di akhir 2015 pertama kalinya saya ikut suatu kontes video. Di tahun 2016 ini saya mencoba mengikuti kontes video blog.
Kerja keras berbanding lurus dengan hasil
Saya mengasah kreativitas dan passion (desain dan menulis) melalui blog. Apa saja yang saya dapat dari blogging? Hadiah? Tentu saja. Berkat ngeblog saya bisa memiliki 2 smartphone impian dan juga sebuah kamera digital. It's pure from blogging. I did not spent my money at all. Saya pernah ditawari content placement dan mendapat dompet cantik serta wedges keren. Ini tak terbayangkan sebelumnya.

Teknologi sangatlah dekat dengan kita...

Saya sadar teknologi, khususnya teknologi digital (internet) memiliki dampak negatif dan postif bagi penggunanya. Banyak sekali terjadi kasus akibat penyalahgunaan teknologi. Misal cyber crime, scamming & phising, radikalisme dan bullying online, hate speech, Share hoax, dan masih banyak lagi. Namun, kita cukup bijak untuk tidak melakukan hal-hal demikian bukan?

Jelaslah, bagi saya pribadi teknologi baik nondigital maupun digital (internet) sangat berdampak positif. Saya mampu mengembangkan passion, mendapat kesempatan baru, pengalaman seru, serta teman-teman yang keren. Come on guys. It's time to level up.

Kamu? Iya kamu? Apakah teknologi memiliki dampak bagi kehidupanmu? Membuatmu lebih baik atau jauh terpuruk?

Lomba ini diselenggarakan oleh IDCopy.net dan Eliska.id

Sabtu, 25 Juni 2016

Social Media : Berkah atau Musibah Bagi Keberagaman?

Jadi saya punya satu pertanyaan buat kamu. Iya kamu yang sedang membaca tulisan saya ini. Sudah berapa lama kamu menggunakan media sosialmu? Lima tahun. Enam Tahun. Atau baru kemarin bikin akun sosmed? Apakah kamu menggunakan media sosialmu untuk sesuatu yang bermanfaat. Misal nih, buat jualan online, personal branding, berbagi inspirasi melalui tulisan dan pemikiranmu, menambah jaringan pertemanan, atau mencari jodoh. Eh kalau yang terakhir beneran ada lho. Bertemu jodoh via media sosial.

Dua orang pria di lingkaran facebook saya bercerita bahwa mereka menemukan tambatan hatinya melalui facebook. Kedua pria tersebut sudah menikah dan bahagia dengan pasangannya masing-masing. Baiklah saya akan bercerita sedikit. Pria pertama, namanya Fahmy Arafat. Fahmy orang Medan, sedangkan istrinya Rina kelahiran kota batik, Pekalongan. Sungguhpun jarak antarpulau tidak menjadikan hambatan bagi dua insan tersebut untuk mengenal satu sama lain. Pria selanjutnya bernama Arif RH. Istrinya bernama Zakiyah. Sebelum mengikat janji suci pernikahan, Arif dan Zaki kerap ngobrol melalui jejaring sosial facebook. Ini kasus yang menarik.

Fokus ke pembahasan awal mengenai media sosial. Sungguh luar biasa peranan media sosial. Mempertemukan orang-orang lintas negara. Lintas bahasa. Lintas agama. Lintas budaya. Media sosial mampu merekatkan. Mendekatkan. Menghubungkan. Media sosial merupakan berkah bagi keberagaman. Sudah selayaknya kita berterima kasih kepada para inovator dan kreator social technology sehingga kita bisa saling sapa di ranah maya.

Media sosial platformnya banyak sekarang. Mulai dari jejaring sosial (facebook, dan Google plus), blog (blogspot, wordpress, blogdetik, kompasiana), forum (kaskus), microblogging (twitter), sharing content video dan foto (youtube, dan instagram), instant messenger (WA, BBM, dan Line). Selain Kaskus, media sosial garapan anak negeri juga ada, semisal kreavi.com (founder: Benny Fajarai), inspirasi.co (founder : Fahd pahdepie), dan Sebangsa (founder : Enda Nasution).
Quote yang menarik. Diambil dari buku Cakap Bermedia Sosial. Dokumentasi : @ArintaSetia
Media sosial hanya sebuah tool. Jika diibaratkan medsos adalah pisau bermata dua. Media sosial bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang positif, bermanfaat, dan memberdayakan. Bisa juga digunakan untuk hal-hal negatif seperti hate speech, black campaign, bullying, radikalisme online, pornografi, cyber crime. Media sosial bisa jadi berkah. Bisa juga jadi musibah. Semua tergantung pada penggunanya. Mau digunakan untuk apa media sosial yang dimiliki.

Terkadang di media sosial mudah dijumpai berita-berita palsu (hoax), berita berisi fitnah dan kecaman yang mendiskreditkan kelompok tertentu, hingga penggiringan opini yang memecah belah (negative framing). Anehnya yang model begini malah justru berpotensi viral. Apalagi kalau berita tersebut dibumbui isu SARA dan politik. Hati-hati, hal-hal semacam ini bisa menyebabkan musibah bagi keberagaman dan toleransi.

Para penulis berita hoax dan provokatif tersebut memanfaatkan psikologi ketakutan dan kebencian para pembacanya. Apalagi jika ditambahi sedikit dalil sains dan agama. Emosi pembaca diaduk-aduk. Tak pelak banyak orang yang kasih jempol dan berbagi isu provokatif yang tidak dapat dipastikan kebenarannya tersebut.

Saya kira edukasi mengenai cakap bermedia sosial mutlak dipermulakan. Cakap Bermedia sosial berarti cerdas dan bijak ketika berkomentar, menulis status, dan berbagi konten di media sosial.

Saya mewanti-wanti diri saya sendiri agar berhati-hati ketika berbagi atau berkomentar via medsos. Saya cukup cermat untuk tidak berbagi hal-hal yang sekiranya menimbulkan konflik. Sebab lingkaran pertemanan saya terdiri dari berbagai kalangan. Lintas agama. Lintas profesi. Saya memanfaatkan media sosial untuk belajar melalui grup diskusi yang saya minati, berkarya dan juga berbagi konten positif.

Media sosial bisa menjadi berkah? Tentu hal tersebut tak bisa dipungkiri lagi. Menjadi berkah artinya media sosial memiliki dampak signifikan (positif dan bermanfaat) bagi penggunanya. Seperti misalnya bagi Luthfi. Berkat media sosial, Mahasiswa jurusan akuntansi UNS Surakarta tersebut kini sedang menggalang aksi patungan online untuk membeli paket buku anak-anak SD Widuri, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Dua bulan lalu, tepatnya 15 April 2016 Luthfi dan rekan mendapat kesempatan melakukan survey penelitian (KKN) terkait masalah lingkungan dan juga pendidikan di Wakatobi. Ternyata akses kesehatan di sana kurang memadai. Pernah suatu ketika ada warga yang kakinya patah karena kejatuhan kayu, akan tetapi tidak ada pertolongan pertama gawat darurat. Rumah sakit pun jaraknya cukup jauh dari lokasi mereka KKN. Pada akhirnya warga tersebut dibawa ke sebuah daerah bernama Wangi-Wangi tanpa menjalani prosedur pertolongan pertama gawat darurat.

Di bidang pendidikan, akses terhadap perbukuan masih sangat terbatas. Hal tersebut terlihat dari antusiasme ketika Luthfi dan rekan-rekannya menyempatkan bermain bersama anak-anak. Salah satu rekan Luthfi mengeluarkan buku IPA. Terlihat rasa penasaran dan semangat menggebu dari bening mata kecil anak-anak tersebut. Ketika Lutfi bertanya apakah di sekolah tidak ada buku seperti itu, salah satu anak menjawab bahwasanya jumlah buku yang ada sangat sedikit. Karena keterbatasan ekonomi pula, orangtua mereka tidak mampu membeli buku dan juga seragam. Jawaban polos anak-anak tersebut menyentuh hati Luthfi dan rekan. 

Maka dari itu, Luthfi dan rekan merencanakan dengan matang program apa saja yang cocok diterapkan dan mampu memberdayakan sumber daya setempat. Di bidang kesehatan mereka mengadakan program penyuluhan pola hidup bersih dan sehat serta pertolongan pertama gawat darurat. Di bidang pemberdayaan akan ada program Rumah Hidroponik. Di bidang pendidikan akan ada program Rumah Baca Widuri, paket buku dan seragam untuk anak-anak. Karena anggaran yang ada belum mencukupi makanya Luthfi dan rekan melakukan penggalangan dana online melalui media sosial dan platform kitabisa.com. Donasi yang terkumpul sudah mencapai 55% dari target Rp 5.000.000.

Saya menaruh simpati terhadap mereka yang rela merogoh kantongnya untuk membantu saudaranya melalui donasi online. Membantu korban tanah longsor, banjir, konflik, dan sebagainya. Dari sinilah muncul rasa empati dan kemanusiaan.

Pernah melihat eksperimen sosial tentang seorang driver gojek yang dengan tulus mengantarkan penumpangnya meski sang penumpang mengaku tidak memiliki uang? Padahal  penumpang tersebut dan tim sedang menguji ketulusan sang driver. Tahu apa yang dikatakan sang driver ketika mengetahui bahwa semua itu adalah eksperimen sosial? Sembari meneteskan air mata sang driver berkata bahwa dia pernah dikecewakan calon penumpang. Padahal dia sudah datang ke lokasi sesuai kesepakatan, tetapi ketika tiba di lokasi mendadak order dibatalkan oleh calon penumpang. Meskipun pernah kecewa, sang driver berupaya menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan, walau itu berupa tumpangan gratis. Saya menyaksikan tayangan tersebut via facebook. Saya sangat tersentuh dengan ketulusan sang driver.

Sungguh media sosial membuka mata, bahwa masih ada kebaikan dan ketulusan nyata di sekitar kita. May peace be upon us.

Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog yang diselenggarakan oleh ICRS dan Sebangsa.