Minggu, 28 Juni 2020

Mencari Rumah Idaman Semudah dalam Genggaman Berkat Aplikasi SIKASEP

A. Mencari Rumah Semudah dalam Genggaman? Tenang Kan Ada SIKASEP

“Baiknya setelah menikah, tinggal di rumah mertua, ngontrak, atau beli rumah sendiri ya? Bingung…” Ungkap Ratna kepada Saya dan Arum dalam sebuah percakapan daring via aplikasi video conference. Selama masa pandemi Covid-19, segalanya dilakukan secara digital. Kita semua wajib mematuhi protokol kesehatan yang dicanangkan pemerintah. Pekerjaan pun dilakukan secara remote melalui sistem Work From Home (WFH) sekaligus social distancing selama diberlakukannya masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga menjelang new normal

“Aku sarankan mending kamu beli rumah sendiri. Jangan tinggal di rumah mertua ataupun orangtua. Ngontrak di Jogja rata-rata 20 hingga 25 juta per tahun. Uang segitu bisa ditabung buat DP rumah.” Jawab saya. Seharusnya Ratna menikah awal Mei lalu, tetapi karena Covid-19 dan hal lainnya, pernikahannya ditunda hingga akhir tahun.

“Inginnya sih beli rumah sendiri, tapi kalian tahu kan gaji aku sebagai guru honorer seberapa dan Mas Anton gajinya belum sanggup buat bayar DP sekaligus nyicil rumah. Selama pandemi, mas Anton kerja di rumah, gajinya gak 100% lagi." Urai Ratna. 

Kami hening beberapa saat. Percakapan ini aslinya menggunakan Bahasa Jawa.

“Ratna, aku kemaren diberi tahu atasanku bahwa pemerintah ngadain rumah bersubsidi buat milenial seperti kita lho. Harganya terjangkau dan prosesnya bisa dipantau di aplikasi” Arum memecahkan keheningan tersebut. Arum kemudian menjelaskan kepada kami bagaimana milenial bisa membeli rumah bersubsidi. Sebuah rumah minimalis dengan harga terjangkau (uang muka dan cicilan bulanan ringan), bunga rendah, tenor panjang, dan berbasis aplikasi digital.

Mendingan beli rumah atau sewa saja ya? Pertanyaan klasik yang sering menggaung di kalangan milenial atau fresh graduate yang baru saja bekerja kantoran. Kebutuhan milenial akan rumah tinggal tergolong cukup tinggi. Saya, Ratna, Arum dan 81 juta milenial Indonesia rentang usia 26 hingga 36 tahun memiliki harapan tinggi untuk memiliki rumah pribadi. Bukan indekos apalagi mengontrak. Angka 81 juta tersebut setara dengan 31% dari total penduduk Indonesia (sumber : kementerian PUPR). Data Bank Indonesia menyebutkan bahwasanya milenial dengan rentang usia di atas mendominasi pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah tapak dan rumah susun ukuran 22-70 m2. 

Milenial kalangan ekonomi menengah ke atas tentu sangat mudah ketika mengajukan KPR. Bagaimana dengan milenial berpenghasilan rendah? Belum lagi terdapat backlog atau defisit jumlah perumahan karena ketidakseimbangan antara kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply) perumahan. Ditambah harga aset tetap berupa properti yang meroket setiap tahun yang tidak diimbangi dengan naiknya pendapatan membuat milenial dan masyarakat berpenghasilan rendah lainnya menunda untuk memiliki rumah. Pengajuan KPR dan screening dari bank juga bukan hal yang mudah, apalagi bagi milenial berpenghasilan rendah dengan upah setara UMR/UMP.

Rumah minimalis menjadi tren dan disukai kalangan milenial dalam kurun waktu 5 tahun terakhir. Apalagi di kota-kota besar dengan ketersediaan lahan yang sempit dan terbatas membuat rumah bergaya minimalis menjamur. Selain konsep minimalisme, milenial pastinya mempertimbangkan faktor finansial dan nonfinansial sebelum membeli rumah tinggal. Faktor nonfinansial misalnya berapa jarak rumah dengan kantor dan fasilitas publik lainnya (keterjangkauan), bebas bencana (misal banjir), dan lingkungan yang kondusif. Adapun faktor finansial menjadi yang utama, meliputi bagaimana kondisi keuangan/tingkat pendapatan, tingkat suku bunga KPR, besaran pajak, asuransi,  biaya-biaya lain yang dikeluarkan ketika membeli rumah, serta berapa harga pasaran rumah dengan spesifikasi tertentu. 

Membidik milenial first jobber dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang tertarik memiliki hunian minimalis dengan harga yang tidak membuat kantong bocor, pemerintah melalui PPDPP (Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan) Kementerian PUPR membuat inovasi KPR FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan). Dengan kata lain, FLPP merupakan program dana subsidi perumahan khusus untuk masyarakat berpenghasilan ekonomi menengah ke bawah.

Demi memudahkan masyarakat untuk mengakses layanan pembiayaan bersubsidi berbasis FLPP ini, tanggal 19 Desember 2019, PPDPP meluncurkan aplikasi SIKASEP (Sistem KPR Subsidi Perumahan) untuk mempertemukan dan menghubungkan antara pengembang, perbankan, dan masyarakat tanpa harus keluar rumah. Ibaratnya SIKASEP ini adalah marketplace yang menyediakan kebutuhan akan perumahan. Mencari rumah idaman semudah dalam genggaman? Tenang kan ada SIKASEP! 

Apalagi di tengah pandemi Covid-19 dan demi mematuhi protokol kesehatan yang dicanangkan pemerintah, mencari rumah idaman melalui gawai (aplikasi SIKASEP) adalah sebuah inovasi yang menghadirkan solusi. Inovasi KPR FLPP dan aplikasi SIKASEP merupakan bagian dari komitmen pemerintah mewujudkan 1 juta perumahan untuk rakyat. Meminjam istilah yang tren di kalangan milenial, KPR FLPP  dan aplikasi SIKASEP sangatlah MANTUL alias Mantap Betul!
Milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) wajib tahu apa saja fitur-fitur unggulan dari pembiayaan perumahan berbasis KPR FLPP yang bisa diakses via SIKASEP ini. Pertama, berkat pembiayaan perumahan berbasis FLPP, milenial dan MBR dapat membeli rumah dengan angsuran yang terjangkau yang disesuaikan dengan tingkat pendapatan. Kedua, suku bunga rendah yakni 5% saja. Ketiga, memiliki jangka waktu kredit (tenor) hingga 20 tahun. Keempat, bebas PPN dan premi asuransi. Kelima, uang muka ringan. Keenam, bisa diakses berbekal gawai demi menghindari penularan virus Covid-19. 

Tahun ini, distribusi pembiayaan bersubsidi FLPP sudah mencapai 7,11 triliun untuk 70.335 unit rumah (data hingga 26 Juni 2020). Sehingga total pengguliran dana FLPP dari tahun 2010 hingga 26 Juni 2020 mencapai 51,48 triliun rupiah untuk 725.937 unit rumah (membidik target realisasi 1 juta perumahan untuk rakyat). Adapun anggaran FLPP tahun 2020 mencapai 11 triliun yang bersumber dari dana DIPA sebesar 9 triliun dan dana pengembalian pokok sebesar 2 triliun.

Hingga detik ini, terdapat 42 bank mitra pelaksana penyaluran pembiayaan bersubsidi FLPP. Adapun rinciannya terbagi atas bank konvensional dan syariah yang terdiri atas 10 bank nasional dan 32 bank pembangunan daerah. Dengan adanya berbagai pilihan bank tersebut, milenial dan MBR dapat memilih bank pelaksana sesuai yang diinginkan.
Pembiayaan FLPP memberikan bantuan subsidi perumahan dalam bentuk KPR Sejahtera Tapak dan KPR Sejahtera Susun. Berikut rincian informasinya :
B. Mengulas Aplikasi SIKASEP (SIKASEP Memudahkan Milenial serta MBR dalam Mencari Rumah Idaman Bersubsidi FLPP)
Sangat mudah mendaftar di aplikasi SIKASEP ini. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengunduhnya via Playstore atau scan QR Code yang tersedia website PPDPP. Lalu melengkapi data diri seperti nama lengkap, NIK, NPWP, jumlah pendapatan perbulan, dan sebagainya. Jangan lupa pastikan GPS aktif ya. Klik lanjut supaya data terekam. Berikutnya swafoto diri bersama KTP untuk memastikan bahwa pengguna bukanlah fiktif. Setelah itu pengguna diminta memfoto foto KTP sesuai frame yang tersedia. Registrasi selesai. Selamat, Anda hanya perlu login.

Terdapat “menu utama” dan “menu lain-lain” pada tampilan antarmuka (User Interface/UI) aplikasi SIKASEP. Berikut rincian informasinya.
Saya pribadi suka pilihan warna aplikasinya (saat login) dengan dominasi biru, juga ada kuning, serasi dengan warna logo Kementerian PUPR (lihat pada dokumentasi foto).

Berikut saya berikan tutorial bagaimana cara memilih rumah idaman menggunakan aplikasi SIKASEP. 
Setelah proses di atas selesai, hal yang perlu diperhatikan berikutnya adalah apakah status pengajuan KPR Subsidi kita lolos ke tahap berikutnya atau tidak. Semua tahapan bisa dipantau pada menu utama, klik ikon “Cek Status Pengajuan KPR.”
Bagaimana jika ada data yang dimasukkan dalam aplikasi ternyata salah? Semisal keliru ketika menulis nama, NPWP, penghasilan? Bisakah diedit? Jawabannya adalah bisa. Adapun data yang bisa diedit meliputi data pribadi (nama lengkap, NPWP, penghasilan, dan nomor HP), edit password (password baru dan konfirmasi), edit lokasi idaman (propinsi, kabupaten/kota, kecamatan), edit perumahan pilihan (provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, nama perumahan, nama pengembang), dan edit pilihan bank (mengganti bank pilihan dengan bank lain). 

Edit data ini masih bisa berjalan selama status pengajuan KPR subsidi masih di tahap 1, 2, dan 3 (maksimal lolos subsidi checking) dan belum dilakukan set followup oleh bank pelaksana (tahap 4, 5, dan 6). Lihat kembali tahapan Cek Status Pengajuan KPR Subsidi pada gambar di atas. Batas maksimal edit adalah 3 kali. Jika kondisi di atas sudah tidak bisa dipenuhi, maka akan muncul notifikasi dalam aplikasi bahwa data sudah tidak bisa lagi diedit.

Ulasan terakhir saya adalah mengenai fitur “kalkulator KPR Sejahtera” pada menu lain-lain. Perhatikan ilustrasi yang saya buat berikut. 
Bagaimana tanggapan pengguna aplikasi SIKASEP yang telah merasakan manfaat pembiayaan bersubsidi FLPP? Dessy Aryanti, salah satu pengguna yang merasakan manfaat dari KPR FLPP bercerita bahwa berkat SIKASEP dirinya mampu membeli rumah tapak tipe 36/60. Dessy menggandeng bank pelaksana Bank Jateng Syariah. Perempuan single parent berusia 40 tahun yang bekerja sebagai buruh di perusahaan obat herbal ini sangatlah bangga mampu membeli rumah sendiri hasil kerja kerasnya. Angsuran bulanan sangat ringan, hanya Rp 890.000 dengan tenor 20 tahun. Di hunian barunya (Perumahan Sultan Residence), Dessy bahagia dan bisa fokus merawat puteri semata wayangnya yang kini telah beranjak remaja. Praktis, mudah, cepat, banknya bisa pilih sendiri, itulah alasan Dessy memanfaatkan aplikasi SIKASEP untuk memiliki hunian idaman yang selama ini dinanti.

Berkat SIKASEP, mencari rumah idaman semudah dalam genggaman tangan. Berkat SIKASEP, mimpi milenial dan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk memiliki hunian pribadi bukan lagi menjadi sekadar angan. Bagaimana? Tertarik mencoba? 

                                                                                 ***

Catatan : materi/sumber penulisan artikel ini diambil dari website PPDPP (https://ppdpp.id) dan media sosial PPDPP (Instagram @kprsejahteraflpp dan Fanspage Facebook @ppdpp.pupr) untuk kemudian diolah oleh Arinta Setia Sari. Infografis, datagrafis, dan komik diolah oleh penulis. Dokumentasi foto adalah dokumentasi pribadi penulis. Penulis menyertakan sedikit pengalaman pribadi saat berinteraksi dengan sahabat yang mencurahkan kegalauannya akan pernikahan dan kebutuhan rumah tinggal, antara memilih mengontrak atau beli rumah sendiri.