Rabu, 19 September 2018

Diskominfo Coworking Space : Aksesibel, Inklusif, dan Ramah Difabel

Selamat datang di era digital dan revolusi industri 4.0, sebuah era di mana keberadaan teknologi dan informasi memegang peranan kunci. Sebuah era di mana digitalisasi tidak hanya menjadi gaya hidup, tetapi juga kebutuhan. Sebuah era di mana dengan bermodalkan gawai, aplikasi, dan akses internet, kita bisa memilih destinasi liburan, memesan hotel, layanan transportasi, bertransaksi via e-money, melakukan pertemuan bisnis lewat virtual office, hingga belanja kebutuhan pokok, cukup dengan klik dan tap. 

Perubahan itu nyata. Era digital di depan mata. Memasuki revolusi industri 4.0, arah mata angin pun berubah. Semua lini berbenah. Bagaimana tidak? Perusahaan yang tidak melek digital dan adaptif terhadap zona baru ini akan tergilas. Pun dengan institusi pemerintahan. Industri yang dahulu menjadi market leader dan menguasai pangsa pasar kian tersaruk-saruk jika enggan berinovasi dan menyesuaikan diri di era ini. 

Gaung revolusi industri 4.0 itu pun menggema hingga ke Jogja yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit Indonesia. Jogja menggeliat. Booom! Jogja bahkan berkomitmen mematangkan dan mengimplementasi konsep Propinsi Cerdas (Smart Province). Artinya guys, Jogja akan memanfaatkan perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang terintegrasi dan terstruktur serta penyediaan fasilitas publik yang memadai guna memberikan layanan-layanan terbaik dan berkualitas bagi warganya. Beberapa capaian yang telah dikembangkan di antaranya berupa aplikasi terintegrasi "Jogja Istimewa," wifi publik, serta co-working space yang inklusif dan aksesibel.
Upaya membentuk ekosistem berbasis digital dan branding sebagai smart province memang membutuhkan konsistensi dan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah seperti Yogyakarta. salah satu wujud komitmen tersebut yakni dengan menyediakan infrastruktur berupa fasilitas publik yang inklusif, aksesibel, dan memadai Menyadari hal itu, Diskominfo DIY meresmikan sebuah coworking space atau ruang kerja bersama bernama Diskominfo Coworking Space (DCS) pada Jumat, 28 Agustus 2018. Diharapkan DCS menjadi sebuah ruang terbuka kreatif yang mewadahi komunitas, technopreneur, blogger, dan para pegiat digital lainnya. Tentu saja ruang kerja kreatif ini merangkul semua kalangan (bersifat inklusif), bisa diakses siapapun termasuk para penyandang difabel.
Radit dan kawan-kawan sudah mendapatkan manfaat dari DCS. Yuk berkunjung dan manfaatkan fasilitas yang ada di sana!


Tonton video di atas ya guys! Biar tambah semangat!
Jadi begini guys, coworking space itu dapat dikatakan sebagai ruang kerja yang fasilitasnya bisa digunakan atau dimanfaatkan secara bersama-sama, baik untuk personal, tim, komunitas, atau perusahaan. Seumpama nih, kamu dan tim lagi bikin aplikasi untuk suatu kompetisi mahasiswa tingkat nasional dan butuh suasana baru selain di kampus atau cafe, mending kamu dan timmu cuss aja ke coworking space, sebab di sana ada meeting room yang menjaga privasi kalian juga akses internet yang stabil. Coworking space pada umumnya menyewakan ruang dan segala fasilitas dengan tarif tertentu, mulai dari Rp 50.000 hingga jutaan rupiah. Namun, ada lho coworking space yang dapat dinikmati secara gratis, DCS misalnya. Ada juga coworking space yang sekaligus sebagai inkubator bisnis. Coworking space model ini pastinya sudah banyak menelurkan digital startuper, sebab ia tidak hanya menyediakan tempat dan fasilitas, tetapi juga memberikan pengarahan, mentoring, networking, hingga pendanaan (investasi). Selain digital startuper, coworking space bisa dinikmati mahasiswa, blogger, social media influencer, digital freelancer, data scientist, atau siapapun yang  berkecimpung di ranah digital.
Semenjak 2010, mulai bertumbuh sejumlah coworking space di Indonesia. Kian tahun jumlahnya kian bertambah, apalagi seiring berjalannya revolusi industri 4.0 di era digital. Kolaborasi coworking space dengan pekerja kreatif digital dan startuper bisa disebut sebagai simbiosis mutualisme. Apalagi di tahun-tahun awal dalam merintis bisnis digital, pastinya para startuper belumlah memiliki kantor atau tempat kerja tersendiri untuk meeting bersama klien, rekan kerja, investor, dan sebagainya. Maka dari itu, kehadiran coworking space yang mematok tarif murah bahkan nol rupiah dapat diibaratkan sebagai oase di padang gurun yang gersang.

Menyadari hal itu, Diskominfo Coworking Space (DCS) memasang tarif nol alias gratis bagi siapa saja yang ingin menikmati semua fasilitas yang ada di dalamnya. Bahkan DCS memiliki desain minimalis yang aksesibel, inklusif, dan ramah bagi para difabel. Semua orang bisa menelurkan ide-ide kreatif dan berkolaborasi di ruang kerja bersama ini. Catat ya!

Bagi kalian yang belum pernah atau bahkan berencana akan berkunjung ke DCS, Arinta akan mengajak tur singkat dan memberi penjelasan melalui foto dan tulisan di blog ini. So Enjoy!
Saya sudah sampai di Diskominfo Coworking Space! Dokumentasi Pribadi
Baiklah, berikut penjelasan mengenai ruang-ruang (indoor dan outdoor space) serta zona-zona yang ada di DCS :
Bangunan DCS dibagi menjadi 2 bagian, yakni sisi indoor dan outdoor space. Di bagian outdoor space terdapat panggung mini dan ruang yang bisa digunakan komunitas ketika mengadakan suatu perhelatan (event) atau unjuk karya. Panggung mini itu bisa juga buat latihan teater/drama (perfomance). Selain panggung mini, tempat duduk yang nyaman serta ditata sedemikian apik. Plus tanaman hijau yang menyejukkan pandangan. Disediakan colokan kabel bagi kamu yang ingin menikmati internet di outdoor space ini. Desainnya sangat inklusif (bisa diterima semua kalangan) dan ramah difabel. Pokoknya outdor space DCS sangat instagramable.
Selain buat performance, panggung kecil ini juga bisa dipakai lesehan sembari mengakses internet. Dokumentasi Pribadi.
Keseluruhan penampakan outdoor space. Dokumentasi Pribadi
Terdapat ramp untuk difabel daksa & guiding block  berwarna kuning untuk difabel netra. Dokumentasi Pribadi
Ramp atau jalur landai/bidang miring merupakan alternatif rute atau jalan yang dapat digunakan sebagai akses bagi penyandang difabel, lansia, wanita hamil, dan orang-orang yang tidak bisa memakai tangga (sumber : jurnal arsitek). Panjang ideal Ramp di luar gedung tidak lebih dari 900 cm. Terdapat 2 lajur ramp pada sisi kanan dan kiri menuju pintu DCS. Panjang setiap ramp di DCS sekitar 500 cm. Berarti udah ideal ya. Kemiringan ramp di luar gedung tidak boleh lebih dari 6.° Terdapat bordes (muka datar) pada awalan/akhiran ramp sehingga kursi roda bisa berputar. Bordes ramp di DCS terletak di depan pintu masuk. Terdapat handrail (pegangan rambatan) yang kuat dan tingginya telah disesuaikan dengan difabel daksa yang menggunakan kursi roda. Baik jalur ramp maupun bordes memiliki bidang permukaan dengan tekstur yang kasar dan tidak licin.

Bagi difabel netra dan penyandang low vision bisa mengikuti rute guiding block (jalur pemandu) berwarna kuning pada ramp. Guiding block garis-garis panjang menunjukkan kamu harus jalan terus, sedangkan guiding block bulat-bulat menunjukkan tanda kamu harus berhenti.
Bagian informasi DCS. Dokumentasi pribadi
Sebelum kamu memasuki indoor space, ada baiknya melepas sandal/sepatu terlebih dahulu. Kemudian kamu bisa bertanya kepada petugas bagian informasi jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan atau dibutuhkan. Kamu juga nanti bakalan diminta mengisi daftar presensi pada buku tamu yang telah disediakan. Melalui bagian layanan informasi ini, kamu bisa melakukan peminjaman ruang (misal meeting room) untuk suatu acara secara gratis. Tinggal layangkan surat permohonan peminjaman ruang, lakukan beberapa hari sebelum hari-H berlangsung.

Saya saat berkunjung ke DCS, saya diajak berkeliling sama Mbak Esti. Perlu diketahui pemirsa, DCS memiliki 4 zonasi dan masing-masing zona memiliki fungsi yang berbeda. Empat zona tersebut yakni zona outdoor (sudah dijelaskan di atas), zona indoor, zona laboratorium (studio animasi & film), terakhir zona ruang kelas (bisa buat presentasi).

DCS melayani pengunjung selama weekdays (Senin sampai Jumat) pada jam kerja. Untuk hari senin hingga jumat, DCS beroperasi mulai pukul 08.30 hingga 16.00 WIB. Khusus hari jumat jam kunjungan berakhir pada pukul 14.30. Pada hari raya atau tanggal merah tentu saja libur.
Mahasiswa magang yang sedang mengkoding website DCS. Dokumentasi pribadi.
Di DCS terdapat 7 komputer yang digunakan untuk berselancar di dunia maya sekaligus berkarya, misal bikin konten blog atau ngoding. Akses internet di DCS bisa terbilang cepat. Saya bisa melakukan hal-hal multitasking sekaligus (bikin konten blog, unduh film, upload foto via canva).

Tentunya kamu akan betah berlama-lama di sini, sebab selain ruangnya nyaman, desainnya menawan, hawanya juga berkat adanya pendingin ruangan. Kalau kamu haus, tinggal ambil air di dispenser.
Meja yang sudah disesuaikan untuk penyandang difabel. Dokumentasi pribadi.
Perhatikan, terdapat 2 meja yang dapat dimanfaatkan difabel netra dan penyandang low vision. Meja tersebut bisa dinaikkan sekaligus diturunkan. Tinggi meja tersebut juga sudah disesuaikan jika ada pengguna berkursi roda yang akan menggunakannya. Saya sudah memakainya, meja tersebut sangat nyaman digunakan.
Studio, Ruang  Kelas, Ruang meeting, dan buku-buku/publikasi pemerintahan . Dokumentasi pribadi
Berikutnya, Foto pertama pada gambar di atas menunjukan sebuah studio kecil atau ruang multimedia yang bisa dimanfaatkan untuk membuat film dan animasi. Di studio ini tersedia 2 buah komputer, sound system, kamera, dan peralatan pendukung lainnya. Saya belum pernah me-render video di studio ini, tapi kalau saya mampir lagi saya akan mencoba bikin video animasi yang ada backsound-nya. Anyway, ruang studio DCS inilah yang masuk dalam zona laboratorium.

Foto kedua menunjukkan ruang kelas. Ruang kelas ini berkapasitas 20 orang. Tersedia whiteboard, LCD, sound system dan perlengkapan pendukung lainnya. Ruang kelas tersebut bisa digunakan untuk kegiatan presentasi produk/ide. Boleh juga nih ruang kelasnya dipakai buat workshop atau diskusi bersama membahas suatu program kerja. Tentu saja meja di ruang kelas telah ramah difabel ya teman-teman.

Foto ketiga merupakan ruang rapat/pertemuan yang bisa digunakan buat diskusi, meeting, atau hal-hal urgent lainnya. Ruang rapat/pertemuan ini juga dilengkapi perpustakaan yang mengkoleksi publikasi pemerintah (Foto ke empat).
Suatu tempat dikatakan aksesibel jika tempat tersebut mudah dijangkau dengan moda transportasi yang ada, terindeks di peta (juga google maps), jarak tempat tersebut dengan tempat lainnya terjangkau (mudah diakses), biaya yang dikeluarkan menuju tempat tersebut cenderung tidak bikin kantong bolong, serta untuk menuju tempat tersebut tidak menyita waktu yang lama (waktu tempuh relatif singkat).

Bagaimana dengan DCS? Untuk menjawab pertanyaan tersebut selama 2 hari berturut-turut saya menjajal moda transportasi yang berbeda. Hari pertama saya memilih menggunakan transportasi daring. Membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit dari kosan saya menuju DCS dengan moda tersebut. Hari kedua saya menggunakan Trans Jogja yang memakan waktu tempuh lebih dari 20 menit. FYI, jarak antara Shelter bus Trans Jogja dengan DCS sangatlah dekat. Kalau bepergian menggunakan transportasi daring maka harga yang dipatok bervariasi, sedangkan jika menggunakan Trans Jogja kamu hanya perlu mengeluarkan 3 lembar Kapten Pattimura dan beberapa koin receh senilai seratusan. Dengan demikian, dilihat dari faktor jarak, biaya, dan waktu tempuh, lokasi DCS sangatlah aksesibel.

Dilihat dari faktor lokasi, DCS memiliki aksesibilitas tinggi karena terjangkau dengan lokasi strategis yang sering diakses masyarakat seperti Alun-alun Utara, Malioboro, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pakualaman, Jogjatronik, Taman Pintar, dan masih banyak lagi. Oh ya satu hal lagi, Meskipun baru diluncurkan bulan lalu, DCS yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso ini sudah terindeks di google maps lho (Srawung Galih-Diskominfo Coworking Space).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwasanya Discominfo Coworking Space (DCS) merupakan coworking space yang tidak hanya menyediakan fasilitas digital yang memadai, tetapi juga aksesibel, inklusif (bisa digunakan oleh semua kalangan), dan ramah bagi difabel.

Dimensi aksesibilitas mencangkup bagaimana keterjangkauan DCS terhadap lokasi lain di sekitar DCS yang dianggap strategis (misal tempat wisata & perhotelan). Dengan demikian dapat dikatakan tingkat aksesibilitas DCS sangat tinggi. Selain itu, aksesibilitas DCS bisa dilihat dari sisi waktu (semakin dekat dengan DCS, waktu tempuh semakin singkat), biaya (uang yang dikeluarkan per sekali jalan menuju DCS tidak membuat kantong jebol), jarak (pakai moda transportasi apapun mudah), dan akses peta digital (terindeks di google maps). Dimensi inklusivitas bisa dilihat dari upaya DCS untuk merangkul semua kalangan, dalam hal ini termasuk para penyandang difabel. Terakhir dimensi ramah difabel bisa dilihat dari desain tata ruang dan tersedianya ramp, guiding block, meja khusus difabel, pintu, serta desain toilet yang memudahkan para penyandang difabel.
Nah bagaimana teman-teman? Mantap kan? Mumpung belum weekend bagaimana kalau lusa kita berkunjung ke DCS. Yuk!

"Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi pagelaran TIK yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika DIY"