Senin, 11 Desember 2017

Inilah Alasan Kenapa Hatiku Tertambat Pada Wiko View

Semua orang di kosan tahu saya ini penikmat film. Selain jalan-jalan, membaca novel, hobi saya yang lain yakni menonton film. Apalagi kala stres menyerang. Pernah terpikir pengin bikin blog khusus review film, tapi saya pertimbangkan lagi sepertinya dalam waktu dekat ini TIDAK! 

Sejak kapan ya saya suka nonton film? Ah ya, saya ingat. Dulu, ayah saya pernah mengajak nonton film animasi di bioskop. Saat itu umur saya 7 tahun. Film yang diputar Lion King. Serius, itu pertama kali saya jatuh cinta pada film, khususnya animasi. Padahal kala itu antrean panjang mengular. Maklum bioskop yang kami singgahi merupakan satu-satunya bioskop di kota kecil kami saat itu. Syukur-syukur kalau kebagian tiket masuk. Kalau tidak? Wassalam, kami pulang. Beruntung, saya dan ayah masih diberi kesempatan menonton Lion King. Sungguh, saya sangat menikmati masa kanak-kanak saya.

Selain animasi saya tertarik pada genre horor, kriminal, thriller, mistery, dan hal-hal yang tak jauh dari itu. Saya kurang suka genre romansa. Komedi masih mendinglah. Satu hal lagi, saya enggak suka film India. Film dari negara mana pun akan coba saya tonton, tidak dengan film India. Entah kenapa saya kurang suka menikmati adegan joged-joged dari film India. Terlalu absurd bagi saya. 

Film telah menjadi sebuah hiburan tersendiri bagi anak muda di kota pelajar seperti saya. Tidak hanya pelepas penat, menonton film telah menjadi sebuah life style bagi generasi milennial. 

Ada 3 opsi cara menonton film. Pertama di bioskop, kedua di laptop/PC, dan terakhir via smartphone. Jujur, kenapa saya ogah-ogahan kalau diajak nonton film horor/thriller di bioskop, tak lain karena back sound-nya yang menggelegar. Saya bisa menggila dan kehilangan kewarasan. Terbayang-bayang adegan jumpscare dan  music scoring yang mendebarkan. To be honest, setelah itu saya tidak akan berani ke toilet sendirian. Nyali saya mengkeret. Well, kalau nonton film horor itu sebenarnya yang bikin ngilu jantung itu back sound-nya lho. Adegan jumpscare cuma pemanis. Nonton film di laptop masih mendinglah. Suara bisa disetting sendiri. Mau keras atau pelan kek. Suka-suka. Teman saya malah bercerita pengalaman nonton film horor dengan back sound kasidahan atau murottal quran. Jadi ceritanya, itu film horor suaranya dikecilin, terus dia menyetel kasidah or murottal pake media player yang lain, Keras pula. Kebayang enggak betapa absurdnya teman saya itu. 

Opsi ketiga, nonton film via smartphone. Ini pengalaman baru dan seru. Pasang headset, cari wifi/sediakan kuota internet yang cukup, pilih film yang ingin ditonton. Asyiknya nonton pake smartphone karena dia ringan dan enak ditenteng kemana-mana. Dimasukkan saku oke, tas juga oke. kalau laptop kan berat. Lagian, sekarang ada banyak layanan atau aplikasi yang menyediakan film-film berkualitas, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Gratis atau berbayar. Tinggal download aplikasinya aja atau berlangganan tiap bulan. 

Menikmati film berbahasa Indonesia tentunya mudah. Kita tinggal fokus memperhatikan jalan cerita. Namun, akan berbeda jika menikmati film garapan luar negeri. Saya harus jeli memperhatikan teks terjemahan or subtitle-nya. Sedangkan smartphone saya layarnya berukuran 4 inchi. Kadang mata sakit dan jengah. Saya tahu, saya butuh layar yang lebih lebar. Wide screen

Dari situ, mulailah saya berburu informasi...

Melalui situs perbandingan harga pricebook, saya mencari info mengenai harga-harga smartphone serta fitur-fitur unggulan yang ditawarkan. Dengan Pricebook. saya bisa membandingkan berbagai smartphone yang ada dengan harga yang ramah di kantong, sesuai budget saya. Berbeda dengan blog tekno yang sering saya kunjungi, yang hanya mengulas fitur smartphone-nya saja. Pricebook, selain mereview keunggulan tiap smartphone, juga membuat list harganya sehingga saya bisa membuat kalkulasi mengenai metode payment seperti apa yang cocok ke depannya. Cash or credit atau menabung dulu hingga uang cukup untuk membeli smartphone impian saya. Tak hanya smartphone, barang elektronik lainnya pun bisa diperbandingkan harganya via Pricebook. 

Barangkali kalau saya diminta mereview gadget saya akan menjadikan Pricebook sebagai rujukan. Informasi yang disajikan di Pricebook cukup lengkap. Pricebook bekerjasama dengan berbagai toko online dan martketplace terpercaya, menampilkan semua brand elektronik yang ada di Indonesia. Berikut juga ada tips-tips bagaimana memilih smartphone dan produk elektronik lainnya yang dapat disesuaikan dengan budget kamu. Pricebook membandingkan semua produk elektronik mulai dari harga terendah. Satu hal lagi, Picebook juga menyediakan forum atau komunitas sebagai ruang komunikasi yang menghubungkan calon customer, pengunjung situs, pengguna produk dengan para seller. Melalui forum, user bisa bertanya mengenai produk, reputasi toko online, atau berbagi pengalaman ketika menggunakan produk tertentu. 

Setelah wara-wiri berselancar di Pricebook, pilihan saya akhirnya jatuh pada Wiko View. Wiko View, i’m falling in love with you. 
Source : mobile88.com
Layarnya Wiko View itu lho, #LebihLuasLebihPuas. Dengan ukuran 5,7 inchi dan Full Screen Display 18:19, smartphone bezelless asal Perancis ber-OS Android Nougat inilah yang cocok bagi pecinta film seperti saya. Tak hanya film, melalui wide screen IPS beresolusi HD+ (1440 x 720 Px), tentunya saya puas menyaksikan video-video yang diunggah youtuber favorit saya, Rosanna Pansino, AKA Nerdy Nummies. Berdesain mewah dan berbobot ringan menjadikan smartphone kelas menengah berlayar lebar ini seakan-akan memiliki ukuran layar 5,2 inch saja. 

Tidak seperti smartphone jadul saya (dengan ROM 512 MB dan memori internal 4 GB), #WikoView memiliki ROM 3 GB/32GB dan expandable memory up to 128 GB! Dengan kapasitas seperti itu saya bisa menyimpan berbagai film, mengunduh game, aplikasi, beratus lagu favorit, dan masih banyak lagi! Wiko view juga telah disokong processor Quad Qore berkecepatan 1,4 Ghz dan chipset Snapdragon 425. Grafisnya pun tak kalah oke, terutama buat kamu para gamer, sebab terdapat dukungan Adreno 308 yang mampu menghasilkan kualitas grafis yang asik (HD). Terdapat pula sensor pemindai sidik jari di bagian belakang yang mengoptimalkan keamanan semua data dan menjaga privasi setiap pengguna. Baterainya berkapasitas 2900 mAh. 

Sebelum tahun 2017 berakhir saya memiliki wishlist film yang ingin saya tonton. Film tersebut yakni:

1. Flatliner
2. Knight Kris 

Bukan. Bukan bumi datar. Flatliner tidak menceritakan tentang flat earth dan kaum fanatiknya yang ingin membuktikan bahwa bumi ini datar! Flatliner merupakan film yang mengisahkan tentang 5 mahasiswa kedokteran yang menjalankan eksperimen kematian. Hati-hati dengan dosa masa lalu, sebab ia bisa menjadi bayang-bayang bahkan setelah kematian. Moral value dalam film ini bagus. Saya jadi penasaran bagaimana sih jalan ceritanya...

Nah kalau Knight Kris lain lagi. Ini film animasi kualitas HD garapan animator lokal. Film khusus keluarga produksi Viva Fantasia dan SSS Pictures ini berkisah tentang petualangan Bayu dan kawan-kawan menghadapi sang villain, Asura. Asura merupakan raksasa jahat yang jiwanya tersegel dalam keris sakti dalam sebuah candi kuno. latar belakang budaya nusantara sangat kental sekali di film animasi ini. Salah satu pengisi suara dalam film ini tak lain adalah Kaesang Pangarep! putera sulung Presiden Jokowi. Menonton Knight seakan-akan mengembalikan nostalgia masa kanak-kanak saya.
Lanjut...

Dengan Wiko, saya tak perlu takut buffering ketika nonton streaming mini series atau serial TV yang sedang on going, sebab Wiko View sudah mendukung konektivitas 4G LTE. Pastinya lebih seru kalau nonton film rame-rame. Iya kan?

Bagaimana dengan kamera? Nah ini nih! Kamera depan berukuran 16 MP, dilengkapi bukaan f/2.0 dengan fitur live portrait blur yang akan menghasilkan efek bokeh seperti halnya DSLR. Sedang kamera utama berukuran 13 MP dengan dukungan Auto Scene Detection, perekam video 1080p@30fps, dan Super Pixel 52 MP sehingga ukuran gambar 4 kali lebih besar dari aslinya (lebih detail, akurat, dan berkualitas tinggi). Bayangkan dengan kamera depan 16 MP saya bisa menghasilkan swafoto yang bening! Saya juga bisa menghasilkan video blog (vlog) yang keren! Apalagi di tengah aktivitas saya sebagai seorang blogger, kadang diundang di suatu event dan wajib bikin reportase via blog dan share ke semua akun medsos. Saya tak perlu malu dan ragu membagikan foto dan video berkualitas dari aktivitas-aktivitas saya. Termasuk ketika diminta mengendorse produk, melakukan campaign, dan membikin trending topic. 

Tidak sekadar jadi penikmat film, melalui #WikoView saya yakin bisa membuat film sendiri. Film pendek tentunya dengan durasi 3-5 menitan. Anyway, bersama team, saya pernah memiliki pengalaman membuat film pendek berurasi 10 menit dengan tema pendidikan. Sepertinya bikin film pendek dan vlog berkualitas adalah project dan PR saya ke depan. 

That's it! Sebagai pecinta film, inilah secuil alasan kenapa hati ini tertaut dan memilih Wiko View. Cinta memang tak bisa bohong...

(Disclaimer : Tulisan ini sedikit mengulas Pricebook dan Wiko View. Awalnya tulisan ini dibuat penulis setelah mengikuti kontes yang diadakan Pricebook dan Wiko di fanspage mereka. Karena penulis suka bercerita dengan gaya storytelling seperti ini, sayang jika tak dimasukkan dalam blogpost. Maka, penulis memutuskan menyimpannya dalam artikel tersebut blog dengan banyak perubahan).