Selasa, 03 November 2015

Papua di Mata Jogja

________________________________________________________________________________
#CorakTanahPapua
Jumat, 30 Oktober 2015

Papua. Apa yang kamu ketahui tentang Papua? Selain Papua bagian dari NKRI dan berada di wilayah Indonesia Timur dengan penduduk lebih dari 3 juta jiwa? Saya sendiri belum pernah sekalipun berkunjung ke Papua. Saya hanya mendengar sekilas-sekilas tentang Papua. Ketika mendengar Papua, saya jadi teringat Freeport (yang tentu saja membuat saya geram). Saya juga teringat akan kuliner khas Papua bernama Pepeda yang bahan dasarnya adalah sagu. Juga koteka dan noken. Papua memiliki banyak sekali suku dan juga tradisi. Ada pula rumah-rumah Honai (diperuntukkan untuk kaum lelaki) dan Ebai (diperuntukkan untuk kaum perempuan) yang beratapkan alang-alang. Sekilas bentuk rumah-rumah tersebut mirip jamur.

Dulu ketika saya SMA, ada salah satu televisi swasta yang menelisik keindahan Papua melalui segmen Jejak Petualang. Saya jadi sedikit tahu bagaimana kehidupan sederhana masyarakat di pedalaman Papua. Papua itu indah. Papua itu surga. Apalagi jika berbicara eksotisme Raja Ampat. Hmmm... Raja Ampat ini menjadi primadona dan andalan pariwisata Indonesia. Wisata bawah lautnya itu lho. Bikin mupeng kan? 
Lomba fotografi #CorakTanahPapua
Pagi menjelang siang, saya mendapat informasi dari @area_jogja (twitter) ada suatu acara bertemakan Papua di UGM. Ketika saya klik posternya mata saya langsung autofokus pada pemutaran film Raja Ampat. Acara tersebut bertajuk #CorakTanahPapua dan berlangsung selama dua hari, yakni dari tanggal 30 hingga 31 Oktober 2015 di Fisipol UGM. Ah cuma Fisipol, naik sepeda 10 menit aja cukup, batinku kala itu. Harus ikut nih! Untuk tahu poster lengkapnya silakan klik di sini

Dalam dua hari tersebut, terdapat 2 talkshow dan 2 sesi diskusi. Selain itu, juga ada pameran dan wisata kuliner di selasar Fisipol UGM. Sepertinya penyelenggara (Keluarga Mahasiwa Papua UGM) ingin menampilkan Papua dari perspektif budaya dan juga pendidikan, makanya tak salah jika judul talkshow di hari pertama adalah Papua di Mata Jogja. Sedangkan talkshow di hari kedua mengambil judul Strategi dan Pengembangan Pendidikan di Papua. Sesi diskusi di hari pertama (berdasarkan yang tertulis di poster) adalah pemutaran film Raja Ampat. Sedangkan sesi kedua, berupa diskusi Peluang Beasiswa Bagi Mahasiswa Papua

Kajian seperti ini ini sangat menarik menurut saya, dan tahun depan harus diadakan lagi. Acara-acara yang saya ikuti biasanya lebih berkaitan dengan dunia kepenulisan atau teknopreneurship. Baru kali ini saya menghadiri acara atau diskusi semacam ini. Saya yakin, pasti ada hal menarik yang bisa saya gali. Mata jurnalistik saya menyala.

Oh ya satu lagi, acara ini free kok alias untuk ikut tidak dipungut biaya. Namun, panitia hanya menyediakan 100 seat untuk peserta. Makanya saya kudu cepat-cepat daftar dan menanyakan apakah masih ada seat untuk saya hari itu. Ternyata masih ada. Meski free entry, peserta yang ikut kudu mendonasikan minimal satu buku untuk Papua. Tak masalah. Saya punya cukup banyak koleksi buku kok. Hari itu saya mendonasikan 3 buah buku sekaligus. Semoga buku-buku itu bisa bermanfaat di sana.
________________________________________________________________________________
Sorong dan Puncak

Ketika saya sudah berada di selasar fisipol UGM, saya diarahkan panitia yang stay di sana untuk menuju salah satu gedung di lantai 2. Saya datang sendiri ya elah kelihatan deh jomblonya. Namun di sana saya berkenalan dengan 2 mahasiswi dari salah satu Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) di Yogyakarta. Saya masih ingat, nama mereka Ika (asal Magelang) dan Anis (asal Klaten). 

Mayoritas peserta yang hadir 87% orang Papua. Sisanya nonPapua, termasuk saya, Ika, dan Anis. Almost booked seats were full. Saya perhatikan hampir semua kursi yang ada terisi penuh. 

Sesi talkshow kali ini menghadirkan 4 narasumber utama dengan didampingi 1 orang moderator dari Pokja Papua UGM. Dua narasumber merupakan pejabat daerah asal Papua, Stepanus Malak (Bupati Sorong) dan Willem Wandik (Bupati Puncak). Sedangkan 2 narasumber yang lain merupakan ketua Kesbang Limas (Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat) dan ketua STPMD (Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogyakarta. 

Hanya beberapa poin menarik yang saya catat di sini. 

Materi pertama disampaikan oleh Pak Stepanus Malak, berhubung waktunya terbatas, setiap pembicara menyampaikan materinya kurang lebih 10 menit. Pak Stepanus kemudian menampilkan peta Kabupaten Sorong dalam slide powerpoint. Kemudian, beliau menjelaskan kondisi pendidikan yang ada di sana. Dulu, sekolah-sekolah negeri di Sorong tidak sebanyak seperti sekarang. Yang ada sekolah berbasis agama yang dibangun oleh gereja setempat. SD inpres letaknya di pedalaman, sedangkan untuk melanjutkan ke jenjang SMP, para pelajar harus pergi ke kota (yang jaraknya cukup jauh hingga berkilo-kilometer). Para pelajar terdidik tingkat SMA/SMK jarang sekali, apalagi sarjana. Biaya pendidikan mahal. Namun, Pak Stepanus adalah salah satu orang yang beruntung, sebab beliau bisa mengenyam pendidikan S2 di UGM. 

Toleransi dan keberagaman dijunjung tinggi di Sorong. Orang jawa, Sumatra atau etnis manapun diberi kebebasan untuk beribadah menurut keyakinannya masing-masing. Alhamdulilah, kita doakan semoga Sorong selalu diberi kedamaian dalam keberagaman. Tidak hanya Sorong, tetap juga Papua dan Indonesia tentunya.
Selain menjujung tinggi toleransi, Pak Stepanus cukup tegas menindak warganya jika ketahuan meminum miras alias mabuk-mabukan, meskipun itu saudaranya sendiri. Tindakan ini diakui sendiri oleh sang moderator acara, Pak Bambang Purwoko selaku ketua Pokja Papua UGM. 
Kabupaten Puncak dari udara. Sumber : www.skyscrapercity.com
Materi kedua disampaikan oleh Pak Willem selaku Bupati Puncak. Perlu diketahui bahwa Kabupaten Puncak merupakan kabupaten tertinggi se-Indonesia (dengan ketinggian mencapai 2.309 Mdpl) dan wilayah ini adalah bagian dari pemekaran Kabupaten Puncak Jaya. Kabupaten Puncak terdiri dari 8 distrik (semacam kecamatan) dan diresmikan pada tanggal 21 Juni 2008 oleh Mendagri Mardiyanto. Kabupaten Puncak letaknya cukup terisolasi karena topografinya dikelilingi oleh pegunungan dan perbukitan. 

Ketika saya menulis postingan ini, saya mencari dan menelusuri berita-berita terkait Kabupaten Puncak. Apa yang saya temukan, membuat saya tak bisa berkata-kata. Sungguh miris. Di sepanjang Juli 2015 ini, ada beberapa titik di distrik tertentu di Kabupaten Puncak yang rentan sekali terhadap cuaca ekstrem (dari hujan es hingga badai salju). Distrik Agandagume adalah wilayah dengan kondisi terparah. Distrik Agandagume berlokasi di lereng Gunung Jayawijaya di bawah Puncak Cartenz (Puncak Jaya) yang konon katanya memiliki salju abadi. Maka tak heran daerah-daerah di sepanjang jalur ini sering dilanda cuaca dingin ekstrem hingga badai salju. Karena kondisi tersebut, lahan-lahan pertanian banyak yang rusak (membeku), kelaparan merajalela, dan ternak-ternak banyak yang mati. Belum dapat dipastikan berapa korban jiwa yang meninggal akibat siklus tahunan ini. Parahnya, akses transportasi yang terbatas dan infrastruktur yang tidak memadai menghambat proses evakuasi dan pemberian bantuan berupa makanan, pakaian dan obat-obatan. 
Distrik Agandagume, Kabupaten Puncak. Sumber : www.skyscrapercity.com
Menurut portal online lewatmana.com, Pak Willem sempat berbicara dengan Presiden Jokowi mengenai kendala dan tantangan yang dihadapi di Kabupaten Puncak. Kendala tersebut lebih terkait dengan penyediaan infrastruktur dan sarana transportasi yang belum memadai. Hal tersebut berimbas pada harga kebutuhan pokok  dan penunjang lainnya yang menjadi sangat mahal. Sekadar contoh, harga satu sak semen bisa mencapai 2 juta rupiah. Harga satu botol air mineral bisa mencapai Rp 50.000. Fantastis bukan? Dengan kisaran harga segitu bisa dibayangkan kan sobat blogger jika bantuan sulit dikirimkan mengingat biaya sewa pesawat dan bahan bakarnya tidaklah murah. 

Yah seperti itulah kondisi Kabupaten Puncak ketika mengalami cuaca ekstrem. Ini siklus tahunan. Kita doakan ya Sobat Blogger semoga masalah ini tidak berlarut-larut dan bisa menemukan solusi.
_______________________________________________________________________________
Papua di Mata Jogja

Kita kembali lagi ke talkshow Papua di Mata Jogja Yuks. Nah di kesempatan ini, Pak Willem sempat memberikan motivasi dan wejangan agar para mahasiswa Papua yang menimba ilmu di Jogja, mau kembali ke daerah dan membangun Papua setelah purnastudi.

Ketika sesi diskusi alias tanya jawab berlangsung, banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan. Dari situ saya mendengarkan curhatan salah satu anak muda Papua yang kuliah di STPMD, betapa sulitnya dia mencari kos-kosan ketika menjadi mahasiswa baru. Betapapun sudah banyak kos-kosan yang dia sambangi, tetapi tetap saja para pemilik kos tidak menerima mahasiswa asal Papua tadi. Ada apa ini? Apakah Jogja sudah tidak toleran terhadap kaum pendatang dari Indonesia Timur?

Selain itu, betapa ribetnya birokrasi untuk mendirikan asrama anak-anak Papua. Ah entahlah. hiks.

Anak-anak muda Papua diidentikkan sebagai trouble maker. Padahal bisa jadi hanya satu atau dua oknum yang melakukan pelanggaran, tapi stigma buruk begitu melekat pada mahasiswa asal Papua. Ah, generalisasi. Tidak demikian kok. Nyatanya, justru dari talkshow ini saya mendapatkan keramahan ala Papua dari Panitia dan juga peserta yang hadir.

Diskusi tersebut begitu seru dan terbuka. Saya jadi terhenyak ketika salah satu anak muda bernama Metodhius Kossay (menempuh S2 hukum di Atmajaya) berkata dengan lantang kepada audience bahwasanya kita (anak muda Papua) harus membuktikan kalau semua itu tidak benar. Anak Papua hebat. Mari tunjukkan itu dengan prestasi, karya, dan juga karakter yang baik. Kontan saja, gemuruh tepuk tangan memenuhi seisi ruangan.

Saya jadi teringat prestasi yang pernah diraih anak-anak muda papua dalam ajang Olimpiade Sains tingkat nasional dan internasional beberapa waktu silam. Prof. Yohanes Surya pun mengakui akan hal itu. Mereka berhasil merebut medali emas, perak, dan perunggu. Anak-anak muda Papua ini berhasil mengharumkan Indonesia.

Di forum diskusi ini saya melihat anak-anak muda Papua dengan mimpi-mimpi dan harapan akan masa depan. Saya melihat spirit antusiasme dalam jiwa mereka. Usia saya dan mereka bisa jadi tak jauh beda atau selisih 2 hingga 3 tahun saja. Namun saya berharap, kelak 10 atau 15 tahun kemudian ada perubahan yang lebih baik di tanah Papua. Bukan perubahan yang menghancurkan, tetapi perubahan yang memberdayakan. Guys, kalian yang berada di sinilah yang kelak akan memimpin negeri ini dan Papua! I love Papua.
________________________________________________________________________________
The Mahuze

Saya mau mengulas sesi pemutaran film dokumenter, tetapi di postingan berikutnya ya? Ada hal menarik yang ingin saya bagi. The Mahuze, judul film tersebut (bukan Raja Ampat seperti yang tertera di Poster). Film dokumenter ini berkisah tentang suku Malind yang berjuang mempertahankan tanah ulayat dari perusahaan kelapa sawit yang berinvestasi di Merauke. Film ini berdasarkan kisah nyata dan telah menyentuh hati saya.

58 komentar:

  1. Suka dengan tulisannya si Kakak Arin, lengkap dan panjang. Saya seolah hadir di sana. Memang pengaruh stigma sungguh merisaukan, dan di masyarakat kita masih mengeneralisirkan satu kaum/kelompok, padahal yang melanggar hanya satu-dua orang saja.
    Saya pas dulu di organisasi juga berteman dengan dua orang dari papua. Mereka ramah-ramah dan cerdas ko. Dan sudah saatnya kita memang harus jadi pemuda yang menjunjung tinggi nilai bhinneka tunggal ika.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh terima kasih Kak Sandi. Iya saya juga belajar untuk mengubah persepsi/stigma atau apapun itu ke arah positif. Anak2 muda papua yg hadir di situ insya allah ramah dan baik hati kok. Sya juga belajar untuk tdk menarik kesimpulan secara general.

      Semoga Papua bisa lebih baik ke depannya.
      Yups that's right. Because Indonesia is multicultural country, so kita kudu menghargai keberagaman :D

      Hapus
  2. a beautipul of papua ya, ng...tapi sebenarnya aku lebih suka kata Irian Jaya sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak Irian jaya lebih Ngindonesia ya? Klo Papua entar jadi mirip negara tetangga...Pupua Nugini :)

      Hapus
  3. Air aja 50rb ya mba? Semoga ke depannya Papua akan semakin baik, terutama infrastrukturnya, karena kasihan mereka, kaya tapi tidak menikmati kekayaannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak seperti itulah...

      Kita doakan semoga ke depannya Papua menjadi semakin lebih baik :D

      Hapus
  4. Temenku ada yg tinggal di Papua. Semua di sana memang serba mahal. Tapi jangan ditanya keindahan pemandangannya. Ya kayak di poto itu, tp lebih banyak lagi spot2 indah yg ga boleh dilewatin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang mahal mbak, itu karena akses infrastruktur dan transportasi yg blm memadai. Kita berharap semoga ada pemimpin2 muda Papua yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik :D

      Pemandangannya memang Indah. Apalagi RAJA AMPAT.

      Hapus
  5. sangat diakui jika khasanah keindahan alam Indonesia Timur terutama Papua masih alami, indah dan eksoktik. Tapi saya kadang agak kuatir jika harus bepergian jauh ke sana :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Papua masih natural mbak. Hehehehe saya juga blm pernah ke sana. Klo pergi sendirian mah kagak berani. Tapi sya naksir sama RAJA AMPAT :D

      Hapus
  6. Bberapa teman satu angkatan langsung ditempatkan di Papua begitu selesai mengikuti pendidikan. Mereka ada yang dinas di sana lebih dari 12 tahun lamanya sampai mereka berpangkat kapten. Mereka baru pindah ke pulau lain setelahnya. Tentu mereka beruntung bisa melihat keindahan alam dan ragam budaya Papua.
    Saya sendiri belum pernah ke sana. Paling jauh ke Manado.
    Terima kasih artikelnya yang menarik
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah beruntung sekali ya Pak Abdul Cholik rekan2 yg bsa menikmati keindahan alam dan budaya Papua.
      12 tahun? lama juga ternyata. Manado juga asyik kok Pak.
      Ya sama-sama pak. Terim akasih sudah berkunjung
      Salam hangat dari Jogja :D

      Hapus
  7. Papuan selain terkenal akan keindahan alamnya juga memiliki potensi untuk mengharumkan nama Indonesia dalam berbagai ajang perlombaan. Raja Ampaaat...salah satu destinasi yang membuat bulu kuduk merinding, indahnya yaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yups betul sekali Mbak Astin Astanti. Raja Ampat memang terkenal dengan pesona alamnya. Rekomendasi destinasi wisata nih :D

      Hapus
  8. Papua itu indah, teman banyak yang disana. Tapi ya itu serba mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. That's right Mbak Lisnawati. Memang harga kebutuhan pokok di sana cukup mahal. Makanya Papua menggantungkan hidupnya dari hasil alam. Berburu, mengolah sagu. Memancing ikan dsb :)

      Hapus
  9. Balasan
    1. Bukan Mas Dey. Saya asli Pekalongan. Jawa :D

      Hapus
  10. Wah ini target ane kalau ada rejeki mau go to Papua mbak :D Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin, semoga ada rejeki buat Mas Eksa ke Papua. Insya Allah sya juga ingin ke sana. tentu saja klo ada rejeki dan kesempatan :D

      Hapus
  11. Anak bunda sudah beberapa kali mendapat tugas dari katornya ke Papua. Byak an2 yang , dia banyak membidik pemandangan-pemandangan yang indah, bentuk rumah yang seperti jamur.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah seru tuh Bunda Yati. Bisa mengabadikan moment indah di Papua. Ah saya jadi mupeng nih. Pengin ke sanaaaaa :) dan liat rumah jamur, weits maksud saya Hanoi :D

      Hapus
  12. Artikelnya bagus nih.. setelah baca ini entah kenapa pengen suatu hari bisa ke papua hihi

    BalasHapus
  13. Aku suka dengan batik papua, sementara baru batiknya saja yang aku tahu selain raja ampat yes.. Lomba foto nya harus ke papua donk yah.. Atau yang berhubungan dengan papua.. Bagus nih..

    BalasHapus
  14. penasaran sama masyarakat Agandagume, bagaimana mereka survival dari cuaca ekstrem, hujan es dan badai salju, sermoga Pemerintah setempat dan pusat agar lebih memperhatikan keadaan di daerah Puncak Jaya dan sekitarnya.

    BalasHapus
  15. Kabupaten puncak yang tertinggi ya mbak, wow baru tahu ini saya

    BalasHapus
  16. dulu waktu kecil saya di doktrin kalau orang papua itu hitam hitam... apa karena matahari paling dekat disana...
    wah duduk diantara orang papua, merasa asing banget dong...
    punya bupati seperti pak stepanus bagus sekali. menjunjung tinggi toleransi dan meberi teguran bagi peminum miras. Jarak yang jauh dari Ibukota membuat papua seperti terpinggirkan, terbukti infrastruktur disana masih parah ya. pengusaha semen bisa menang banyak kalo jualnya sebesar itu... saya jadi penasaran sama film raja empat... belum sempat nonton...

    BalasHapus
  17. apa yg diketahui dari papua? freeepooort :'( & raja ampat :D

    BalasHapus
  18. Pengen banget ke Papua. Tanah eksotik yang penuh dengan keindahan....

    BalasHapus
  19. papua indah banget :') ane jadi pengin kesana

    BalasHapus
  20. Mudah2an ke depannya makin besar toleransi keberagaman di papua. Baru2 ini di Manokwari ada letupan. Ipar saya tinggal di sana yang mengabari. Pemicu karena ada yang tak setuju pendirian sebuah masjid di sana :(

    Yah ... mudah2an ke depannya semakin baik karena kita semua orang Indonesia ... harusnya saling menjaga

    BalasHapus
  21. Kadang saya mikir...klo banyak orang2 hebat papua masuk birokrasi, ketimpangan untuk menikmati kue pembangunan itu msh terjadi nggak ya? Indonesia terlalu lama java centris mb, dan paradigma itu harus diubah. Eh...jadi inget pak Bambang. Beliau dosen pembimbingku jaman kuliah mbakkkk....

    BalasHapus
  22. Teman saya sering mendapat tugas terbang ke Papua terkait dg pemekaran wilayah (Kabupaten baru). Penerbangan menggunakan pesawat kecil membelah hutan rimba raya. sszzeerr gimanaaa rasanya.

    Namun saat singgah di Raja Ampat dan tmpt2 eksotik lainnya ... MasyaAllah indahnya ... terbayar tuh.
    Serta sambutan dari masyarakat Papua yg sgt welcome :)

    Salute dg kegiatan yg digelar d UGM, senang saudara2 kita sgt antusias saling share n care utk sdr2 kita di Papua. Terimakasih artikelnya sgt menarik ...

    BalasHapus
  23. dari tulisan seperti ini pembaca jadi tahu lebih banyak tentang Papua. Semoga kapan2 saya bisa kesana. Terima kasih untuk kunjungannya ya. Salam kenal

    BalasHapus
  24. dari tulisan seperti ini pembaca jadi tahu lebih banyak tentang Papua. Semoga kapan2 saya bisa kesana. Terima kasih untuk kunjungannya ya. Salam kenal

    BalasHapus
  25. pertama baca kata papua, ada beberapa kata yang langsung terlinatas. Koteka, papeda yan freeport, buat gw kata terakhir bikin mules, bukan rahasia lagi kalo perusahaan asal paman sam itu bener2 ngeruk hasil bumii papua tanpa timbal balik yang sepadan ke warga sekitar.

    terakhir denger ada pembakaran rumah ibadah di sana, sayang banget dikala isu rasis di Eropa dan Amerika udah redup eh di negara sendiri malah muncul :"(

    semoga kedepannya Papua bisa lebih maju...

    BalasHapus
  26. Nggak cuma papua, sih. Harapannya daerah-daerah 3T bisa maju dan berkembang pendidikannya, dan berdaya masyarakatnya..:)

    BalasHapus
  27. penasaran pengen ke papua. semoga suatu saat nanti bisa menikmati keindahan tanah papua

    BalasHapus
  28. Gila sebotol air harga'a 50 ribu -_-

    BalasHapus
  29. buset, tulisannya menohok banget mbak
    merinding saya bacanya

    inspiratif nih, saya jadi tergerak untuk bikin tulisan soal papua
    mungkin judulnya papua di mata jakarta
    tapi ntar cari bahan referensi yang relevan dulu
    he he he

    makasiiiih :)

    BalasHapus
  30. Kalau bagi saya sih lebih senang menyebut Irian Jaya Karena sudah seperti Indonesia saja. Kalau pake nama papua sudah seperti asing aja,. Sudah seperti di luar negeri ya

    BalasHapus
  31. Masih bermimpi untuk bisa mengijakan kaki, menyelami kehidupan masyarakat tanah papua.

    BalasHapus
  32. Bangga dengan alamnya, namun sangat disayangkan pemilik gunung emas ini tidak bisa menikmati kekayaannya :( *Mirrriiss...

    BalasHapus
  33. kadang aku berpikir papua diberi pembangunan layaknya kota2 d Indonesia, tapi juga khawatir kalau keindahannya akan berkurang mbak

    BalasHapus
  34. Saya jadi inget kampus saya di Salatiga. Dulu teman saya banyak yang berasal dari Indonesia bagian Timur. Kalo pas pawai mahasiswa baru, paling ditunggu-tunggu aksi dari mahasiswa papua soalnya aksi mereka unik dan menghibur. Gak sedikit pula dari mereka yang berprestasi, membawa baik nama kampus, bahkan memperoleh beasiswa ke luar negeri :) Respect!

    BalasHapus
  35. aku punya sekitar 40-an adik kelas dari papua. mereka lucunya gak ketulungan, walaupun aromanya rada aneh. hihi. pernah mau PKL di sana, tapi begitu tau serba mahal, kagak jadi deh.

    BalasHapus
  36. Semoga aja dengan tulisan ini tidak ada lagi yg menggenalisir masyarakat Papua karena mereka orang Indonesia juga ^^

    BalasHapus
  37. Banyak orang yang takut bila ditugaskan ke Papua, padahal alamnya cantik luar biasa...

    BalasHapus
  38. Banyak orang yang takut bila ditugaskan ke Papua, padahal alamnya cantik luar biasa...

    BalasHapus
  39. Banyak orang yang takut bila ditugaskan ke Papua, padahal alamnya cantik luar biasa...

    BalasHapus
  40. Aku pingin ke Papua deh. Penasaran banget, mau lihat langsung keadaan di sana. :D

    BalasHapus
  41. papua bagain dari indonesia yang mempunyai alam yang menakjubkan dan indah namun sayang papua dianggap bagaikan anak tiri dinegri indonesia, mudah-mudah masyarakat papua bisa cepat sejahtera dan tidak dianggap anak tiri

    BalasHapus
  42. Senang dng tulisan anda ttg Papua. Anda menulis artikel itu seolah2 pernah menginjakkan kaki di Tanah Papua. Tpi sy akui spt itulah penulis menggambarkan sesuatu hehehe. Byk kok spot2 menarik di Papua hny sj transportasinx mahal krn hrs gunakan pswt dan kapal.

    BalasHapus
  43. Saya pengen ke Papua. Kt y banyak tempat menarik. Tapi ya itu, transportasinya mahal yaaa..hiks

    BalasHapus
  44. PAPUA BUKAN INDONESIA, DARI PADA KAMI SERING DI HINA (MONYET) LEBIH BAIK KAMI KEMBALI KE HABITAT ASALNYA YAITU MSG (MELANESIAN SPEARHEAD GROUP) KAMI INGIN BEBAS DARI KOLONIAL NKRI!!!

    BalasHapus
  45. TIDAK HANYA MASALAH RASIS KARENA WARNA KULIT, TAPI KAMI SELALU DI TINDAS OLEH APARAT KEAMANAN INDON, TANAH KAMI DI BAKAR,DI RAMPAS,DI RUSAK, WAHAI SAUDARAKU KAMI BUKAN BUDAK, KAMI INI MAKHLUK TUHAN ALLAH SWT, KAMI INGIN BEBAS, SELAYAKNYA SAUDARA" YG LAIN, YAITU MERDEKA ,,, MERDEKA ,,, MERDEKA ,,, UNTUK MENENTUKAN NASIB SENDIRI SEBAGAI SOLUSI DEMOKRATIS BAGI BANGSA PAPUA !!!

    BalasHapus