Sabtu, 09 Mei 2015

Catatan Tengah Malam (Menggila)

Malam ini aku ingin menggila. Yeah aku sangat butuh dosis tinggi endorfin. Endorfin, kupikir lebih baik dari pada aku menginjeksi morfin dalam aliran darahku. Ingin kupacu adrenalinku agar detak jantungku di atas normal. Kuharap pituitary di otakku menyediakan kapasitas endorfin yang cukup.

Kupasang headset. Kusetel Linkin Park. Kamu tahu Linkin Park kan? Yeah, dia grup musik favoritku. Aku tak peduli kupingku meledak. Akhirnya kupilih lagu Runaway.

Aku sedang berpikir. Merangkai kata. Membentuk paragraf. Pikiranku melayang. Aku kacau. Aku merasa tidak waras. Hari ini. Kupikir tingkat kesintinganku bisa mereda. Menurun beberapa level. Namun aku salah. Tidak aku belum segila Benedict Cumberbatch dalam Shelock Holmes. Dia jenius sociopath, aku bukan. Aku hanya manusia normal biasa yang sedang dalam kondisi tidak waras. Aku sakit. No! bukan sakit fisik seperti flu atau demam. Tidak juga aku gila karena patah hati. Aku hanya merasa...

Merasa tidak normal saja. Cukup! jangan menghakimiku dengan berbagai penilaianmu itu. Aku hanya ingin menyendiri dalam ruang kosongku. Jika Holmes punya ruang khusus yang disebut Mind palace, maka aku pun punya my space of mind.

Kadang aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Seperti aku tidak mengenal diriku. Aku yang bukan aku. Pernah merasa seperti ini sebelumnya? Oh mumet dengan penjelasanku yang memang enggak jelas ini? Oke. Aku ini bipolar. Bipolar syndrome. Pernah dengan istilah bipolar. Well, search aja di google. Aku juga malas menjelaskannya.

Sometimes, aku merasa seperti alien. Asing. Aneh. Dan hal-hal semacam itu. Oh ya, aku sangat tertarik pada hal-hal berbau metafisika. Mungkin metafisika saat ini masuk dalam kategori psedoscience. Halah apalagi itu psedoscience!

Metafisika saat ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah dengan logika penalaran. Maka dari itu, dia masuk ke psedoscience (sains semu) karena sulit dibuktikan dengan kaidah ilmiah dan tidak pula berdasar pada kesepakatan yang berlaku umum. Bah! Contoh psedoscience ini adalah telepati

Aku percaya akan telepati. Aku percaya bahwasanya otak kita setiap waktu mengirim sinyal seperti gelombang yang memiliki kekuatan vibrasi dan frekuansi yang berbeda. Tergantung kondisi atau emosi seseorang pada saat itu. Mungkin kamu enggak percaya padaku. Ya sudahlah. Aku sendiri sudah membuktikannya beberapa kali. Mungkin tidak valid dan tidak bisa diukur secara ilmiah. Bukankah logika dan intuisi terkadang kontradiksi?

Sebelum adanya teknologi bluetooth, orang kalau mengirim gambar lewat ponsel menggunakan infra red. Infra red ini gelombang. Tidak nampak dan tidak bisa kita sentuh. Tapi infra red itu ada. Begitu pula telepati.

Eh kok ceritaku melenceng ya? Aku kan tadi sekadar bercerita tentang kondisiku yang sedang menggila. Kenapa bisa sampai ke metafisika, pseudoscience, dan telepati? Ah sudahlah. Pokoknya malam ini aku ingin menggila. Ceritaku bisa aneh-aneh. Mungkin aku sudah mulai lelah.

Namun dengan bercerita, perasaanku sedikit lega. Aku yang kadang merasa aneh dengan diriku sendiri sepertinya menemukan tempat pelampiasan. Melepas energi yang mengikat erat.

Runaway-nya Linkin Park sedari tadi masih kenceng di kuping. Runaway. Pelarian. Sungguhkah saat ini aku mencari sebuah tempat untuk pelarian? Oh tidak. Kurasa yang kubutuhkan saat ini adalah tempat berbagi cerita.

I wanna run away, never say goodbye
I wanna know the truth instead of wondering why
I wanna know the answers, no more lies
I wanna shut the door and open up my mind

Note : Jika kamu tahu cara mengaktivasi endorfin di pituitari dalam jumlah cukup besar kasih tahu ke aku ya. Cukup endorfin saja, aku tidak mau morfin. Aku bukan pecandu. Efek morfin bisa berbahaya dalam jangka panjang. Aku lebih butuh endorfin. The last, maaf ya reader kalau tulisanku sedikit ngelantur, nyeleneh dan enggak masuk akal bagimu. Malam ini aku sedang menggila.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar