Jumat, 27 Maret 2015

Analitis & Tidak Mudah Terpengaruh

Semalem di newsfeed facebook nongol note dari Mas Fahmi Arafat Daulay. Beliau adalah trainer yang bergerak di bidang pemberdayaan diri sekaligus penemu konsep Triangle of Reality. Aku baca note tersebut. Kok menarik untuk aku bagikan. Judul note tersebut adalah Bahaya Otak Kanan dan Sedekah Sadis. Kenapa aku tertarik dengan note beliau? Setelah aku baca aku jadi merenungkan beberapa hal. Aku sekarang menjadi lebih berhati-hati dalam hal menganalisis suatu pemikiran, baik itu tulisan dari buku, artikel media, workshop, dan sebagainya. 

Misal nih aku ambil contoh, ada buku yang mengulas kalau ingin sukses jadilah bos, jangan jadi karyawan. Oke... oke pendapat ini fair saja sih. Bisnis itu adalah sesuatu yang mengandung risiko. Selain modal, mental yang kuat menjadi landasan yang penting untuk membangun bisnis. Seseorang paling tidak harus punya pengetahuan, pengalaman, dan jaringan untuk merintis bisnisnya hingga menjadikannya sebuah mesin pencetak uang. 

Kembali ke topik sebelumnya, jika seorang yang sudah mapan sebagai intrapreneur di suatu perusahaan, kemudian karena mengikuti workshop atau membaca buku tertentu yang menjadikannya resign dari pekerjaannya karena ingin membangun bisnisnya, tepatkah keputusan yang diambil? Tak masalah menurutku kalau saja dia sudah memiliki bekal yang kuat, seperti yang sudah aku jelaskan sebelumnya. Siapa tahu dia bisa membangun karir lebih sukses dari bisnisnya daripada saat jadi karyawan. Tetapi jika situasinya berkebalikan bagaimana? Maksudku dia sudah mapan di jalur karirnya, tetapi dia keluar untuk merintis bisnis tanpa persiapan yang matang atau hanya sekedar ikut-ikutan trend bisnis yang sedang berkembang saat itu. Hal tersebut bisa berakibat fatal.

Jangan karena pengaruh omongan orang, menjadikan seseorang mengambil keputusan nekad tanpa menganalisis dan mempertimbangkan risiko baik atau buruknya. Bolehlah keluar membangun usaha, asal ya tadi memiliki persiapan yang matang dan sudah punya fondasi serta alasan yang kuat kenapa ingin memilih merintis usaha. Pada akhirnya, semua berpulang ke individu masing-masing. Namun prinsip kehati-hatian dan sikap analitis sangat diperlukan dalam mengambil keputusan.

Nah ulasanku di atas masih ada kaitannya dengan notenya Mas Fahmi. Berikut aku kutip langsung dari beliau. 
Bahaya Otak Kanan Dan Sedekah Sadis
Dulu saya pernah tertipu dengan Slogan 'Jangan Mau jadi Orang Gajian Seumur Hidup'. Dalam ajaran buku Entrepreneurship itu kesan yang tertangkap seolah lulus kuliah dan bekerja dengan orang itu menyedihkan.Seolah rendahan dan dianggap sebelah mata.
Hal ini yang membuat saya waktu itu terpengaruh. Ternyata ada yang saya lupa analisa, bahwa ternyata pria penulis buku itu memegang gelar Master Manajemen. Itu tertulis dibelakang namanya.
Ya ampun, kurangnya analisis membuat saya sempat mengalami konflik hebat pada tahun tahun setelahnya. Tak hanya itu, beberapa pria penyebar pengetahuan Sedekah dan LOA juga lupa saya analisis. Sehingga sempat terjebak kemiskinan dalam waktu waktu itu. 
Padahal,mereka yang mengajarkan itu rata rata adalah pebisnis, jagoan Marketing dan punya jaringan yang luas. Mereka juga berpendidikan tinggi dalam hal Finansial.  
Kesimpulannya, sekarang saya sangat berhati hati dengan Istilah 'Aliran Otak Kanan' atau 'Sedekah Sadis' dan sejenisnya. Jika anda teliti, mereka mereka yang suka 'Sedekah Sadis' itu adalah orang orang yang sudah sangat Kaya dan memiliki sistem bisnis yang mengalirkan uang bahkan tanpa mereka bekerja atau ikut dalam sistem lagi. 
Ya wajar saja dengan kekayaan sehebat itu, mereka bisa 'Sedekah Sadis'. Otak Kanan! Otak Kanan! Itu yang sering digaung gaungkan dan diagung agungkan seolah otak kiri sia sia saja diciptakan Tuhan. Akibatnya? Banyak yang KO, bangkrut, masuk penjara, hilang tak tentu rimbanya dan banyak lagi.
Sobat saya terkena Hutang 2, 5 Milyar akibat 'Aliran Kanan' ini. Dan entah berapa banyak lagi yang sudah terkena janji janji Gula ini. Saran saya, analisis dulu, lihat siapa yang menjadi pembicara. Apa latar belakangnya, bagaimana sejarah si pembicara. Lalu tentukan sendiri dengan pikiran yang jernih. 
Bahkan kalau perlu, berdoa dulu sebelum memutuskan ikut aliran apapun. Biar selamat dan terhindar dari kesalahan fatal saya dan sobat saya lakukan. Itu lebih aman dan jikapun terkena, anda akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya 
Saya pribadi lebih memilih konsep keseimbangan dan tak terlalu berlebihan. Ada banyak orang yang 'KIRI" juga kaya raya dan suka berbagi. Bukan hanya orang 'Kanan' itu. Lagipula, kedua belahan otak diciptakan untuk saling mendukung, bukan untuk saling melecehkan satu dengan yang lainnya.
Emangnya Tuhan menciptakan Otak Kiri sia sia? Seimbanglah dan jangan terlalu Lebay dan menTuhankan Otak Kanan. Rasionalisme juga berperan penting dalam menstrukturkan pengetahuan dan banyak hal lainnya yang menggunakan fungsi otak kiri. Bahkan semua tulisan dan buku juga menggunakan prinsip Otak Kiri yaitu TERATUR, RUNTUN dan TERSUSUN RAPI. 
Saya tak bisa membayangkan jika ada buku yang tak jelas awal dan akhirnya. Melayang layang dan tak diketahui urutan penyusunannya. Juga, Otak Kiri memastikan kita memahami pola yang bermanfaat bagi banyak hal lainnya. 
Ya sudah, pesan saya ya hati hati saja dengan Trend Pemikiran yang keliatan sangat Spiritual padahal sangat berlebihan dari ajaran aslinya. Analisis dan jangan mudah percaya. Hidup anda hanya sekali dan tak bisa terulang lagi. Ambillah pembelajaran dari pengalaman unik saya serta jadilah pribadi yang seimbang, lahir batin, dunia akhirat. (Fahmi Arafat Daulay)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar