Jumat, 13 Maret 2015

Aku Melukis

Aku sekadar mau berbagi kisahku ketika masih duduk di bangku SD. Kala aku masih unyu-unyu. Cieeelahhh. Yupss masa kanak-kanak tetapnya menjadi masa yang menyenangkan bagi kita bukan? Sebagai generasi yang lahir di era 90-an, pastinya kita sudah tak asing lagi dengan tontonan animasi yang tayang tiap hari minggu. Dari pagi jam 7 sampai jam 12 siang anak-anak sibuk mantengin acara kartun favorit mereka. Karakter-karakter unik dalam tayangan animasi ini yang menjadikan kita betah berlama-lama duduk di depan layar kaca. Hmmm... coba aku ingat-ingat lagi animasi apa yang menjadi favoritku. Ada hamtaro, Doraemon, Ninja Hatori, Kitaro, Detective Conan, Chibi Maruko Chan, Ben Ten. Belum lagi jagoan superhero seperti Masked Rider, Ultraman, dan Power Ranger. Pokoknya Seru dah!!! 

Selain suka nonton animasi tiap akhir pekan, hobiku yang lain yakni baca komik. Komik Doraemonlah yang favoritku kala itu. Asyik banget petualangan si robot kucing dengan keempat kawan dan teknologi menembus masa depan dan masa lampau. Kita diajak bertualang lewat imajinasi gambar dan tulisan.Gambar berbicara. Gambar bercerita.

Bicara soal gambar, dulu aku pernah bercita-cita menjadi seorang pelukis. Membuat sketsa dengan modal pencil dan beberapa lembar kertas. Pastel, crayon, pensil warna, cat minyak, dan cat air adalah properti wajib yang kudu dimiliki oleh seorang yang memiliki jiwa seni seperti aku.

Aku yakin para pembuat animasi dulunya mempunyai hobi dan passion yang luar biasa di bidang menggambar. Keahlian atau desain manualnya yang semula hanya hobi, kemudian ditingkatkan levelnya menjadi profesi. Keren kan? Bukan desain manual saja, tetapi mereka sudah merambah ke skill 2D dan 3D dengan menggunakan software khusus. Komik dan tayangan animasi di layar kaca adalah contoh hasil kreativitas seorang artist atau seniman. Karya mereka memang layak jual. Mereka pun layak mendapat apresiasi atas dedikasi pada seni dan kerja keras yang mereka lakukan selama ini.
Sumber ilustrasi. ilusi-fantasidunia.blogspot.com
DESAIN MANUAL
Pelajaran seni pertamaku aku dapat saat aku melihat majalah mode. Ada desain baju yang menarik. Sketsa gadis muda bertopi dengan berbalut pakaian trendi. Aku meminta ayahku mengajariku bagaimana caranya menggambar. Saat itu aku kelas 2 SD. Aku begitu bersemangat ketika memulainya. Kertas-kertas bertebaran. Penuh dengan coretan tak karuan.

Aku juga melihat contoh desain dari buku seni rupa SMA ayahku. Aku memulai segalanya otodidak. Tanpa bantuan seorang profesional di bidang seni lukis/gambar. Ayahku adalah guruku. Aku suka keindahan. Keindahan desain rancang bangun atau arsitektur juga menarik perhatianku. Selain menggambar orang, pemandangan, aku juga menggambar rumah dan juga denah ruangan. Mimpiku waktu kecil adalah ingin menjadi pelukis. Kalaupun tidak menjadi pelukis, arsitek okelah. Kan sebelas dua belas.

Aku suka berkreasi memadukan aneka warna pada pastel atau pensil warna. Terkadang menggunakan cat air. Khusus untuk cat air aku belum begitu  mahir. Kusiapkan palet dan juga kuas-kuas. Namun karyaku belum maksimal. Tampak lelehan cat air meluber ke mana-mana. Gambarku jadi kacau :( Jika menggunakan pastel dan pensil warna gambarku lumayan OKE :D
Sumber ilustrasi. desainrumahmudah.com
LOMBA MELUKIS
Kesempatan itu datang saat aku duduk di kelas 3 SD. Kata teman-temanku sekelas gambarku bagus. Tak jarang teman-temanku meminta aku menggambarkan sesuatu. Dari rekomendasi teman-temanlah aku dipilih oleh guruku untuk mengikuti lomba lukis tingkat kecamatan. Deg-degan memang. Lokasi di Pendopo Kecamatan Tirto. Ada beberapa wakil SD se-Kecamatan Tirto.

Saat pengumuman tiba, karyaku ternyata menjadi juara pertama dalam lomba lukis tersebut. So, aku mendapat kesempatan untuk menjadi wakil sekolah di lomba lukis tingkat Kabupaten Pekalongan. Lomba tersebut berlokasi di SD Doro.

Pespa tua milik Pak Haris Guruku menjadi saksi perjalanan kami menuju SD Doro. Aku tinggal dekat jalur pantura. Sedangkan Doro letaknya cukup jauh. Aku lupa berapa jam perjalanan dari tempat tinggalku menuju ke sana. Pokoknya selama perjalanan aku mengantuk.

Setibanya di lokasi, aku takjub melihat beragam lukisan. Lukisan tersebut cantik-cantik. Bahkan ada beberapa lukisan, saking indahnya, tampak digambar oleh orang dewasa. Bukan kelas anak-anak lagi. Aku menjadi minder. Aku merasa gambarku tidak ada apa-apanya di bandingkan gambar mereka. Aku merasa kalah. Dan aku memang kalah. Sedih rasanya mengetahui diriku bukanlah apa-apa.

Segalanya kuawali secara otodidak. Aku tidak memiliki pelatih atau mentor profesional yang mengarahkanku pada bakat seniku. Maka dari itu aku merasa gambarku kurang memuaskan. Kukerjakan karya seniku sendiri. Tidak ada yang mengomentari bagaimana hasil karya ciptaku. Apa yang kurang? Apa yang butuh aku perbaiki? Apa yang harus aku tambahi? Sebenarnya aku lebih butuh banyak masukan dan saran. Termasuk kritikan.

GAMBAR ITU TAK BERGUNA
Ibuku suatu ketika berkata bahwa menggambar itu menghabiskan waktu. Percuma. Sia-sia. Tak menghasilkan apapun. Hanya membuang-buang kertas dan menjadikannya sampah.

Aku pun terdiam. Aku bisa apa? Hanya menyudut di ruangan. Aku kan masih kecil. Masih polos dan belum bisa berargumentasi. Aku tak memiliki alasan logis untuk menyanggah apa yang dikatakan ibuku bahwa menggambar adalah sesuatu yang sia-sia.. Di saat itu kadang aku merasa sedih :(

Bisa jadi ibuku berpikir bagaimana masa depan putrinya jika menjadi seorang pelukis. Pelukis bukanlah salah satu profesi seksi dan bergengsi di ibuku. Dengungnya masih kalah sama PNS. Bagaimana mungkin lukisan-lukisan sanggup menjamin keamanan finansial di masa depan. Mungkin ibuku takut aku menjadi kere jika aku mengikuti panggilan jiwaku menjadi seorang artist (seniman).

Aku jadi teringat lagu dan klip video dari Linkin Park yang berjudul NUMB.

Ada bagian khusus yang mengena banget ke aku ketika aku menonton video klipnya. Bagian di mana orangtua tokoh dalam video tersebut tidak peduli padanya. Mereka sering bertengkar. Hanya melalui lukisanlah Si Tokoh itu melampiaskan perasaannya. Hingga akhirnya dia menemukan bahwa kedamaian itu tercipta ketika terhubung dengan TuhanNya. Menohok banget yahhh. Miris :(

Penasaran dengan Video klipnya. Tonton aja di Youtube :)
Pokoknya lagunya memutar kembali memori masa laluku.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar